10 Juli 2026 · Hari 6
Hari 6: Pasal 2 - UMAT PILIHAN
Halaman 24-25 | Pasal 2, Paragraf 4-8 | KSZ1 24.1-KSZ1 25.2
Ayat Inti
Matius 1:23
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu pertama mengarahkan jemaat melihat Yesus sebagai Imanuel, Allah yang bersama manusia. Bacaan ini menolong kita memulai perjalanan misi dengan kekaguman kepada kasih Kristus dan kesadaran bahwa umat pilihan dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
Doa
Tuhan Yesus, dekatkan hati kami kepada-Mu dan jadikan kami saksi kasih-Mu di tempat kami berada. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 24.1 Tetapi bangsa Israel menetapkan harapan mereka pada kebesaran duniawi. Sejak mereka masuk ke negeri Kanaan, mereka telah menyimpang dari hukum-hukum Allah, lalu mengikut jalan bangsa-bangsa kafir. Sia-sialah Allah mengirim amaran kepada mereka dengan perantaraan nabi-nabi-Nya. Sia-sialah mereka menderita kesengsaraan akibat penindasan bangsa-bangsa kafir. Setiap reformasi disusul oleh kemurtadan yang lebih besar.
KSZ1 24.2 Sekiranya Israel sudah setia kepada Allah, niscaya Ia sudah akan dapat melaksanakan maksud-Nya oleh kehormatan dan kemuliaan mereka. Sekiranya mereka sudah berjalan pada jalan-jalan penurutan, niscaya Ia sudah akan mengangkat mereka “di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Segala bangsa yang di dalam dunia,” kata Musa, “akan melihat bahwa nama Tuhan telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu.” “Waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.” UI. 26:19; 28:10; 4:6. Akan tetapi karena mereka tidak setia, maka maksud Allah dapat dilaksanakan hanya dengan kesusahan dan kehinaan yang tiada habis-habisnya.
KSZ1 24.3 Mereka terpaksa tunduk ke bawah kekuasaan Babel, dan terceraiberai di seluruh negeri bangsa-bangsa kafir. Dalam kesengsaraan banyak yang membarui kesetiaan mereka kepada perjanjian-Nya. Sementara menggantungkan kecapi mereka pada pokok-pokok gandarusa, serta meratapi Bait Suci yang telah rusak binasa, cahaya kebenaran pun bersinar melalui mereka, dan pengetahuan tentang Allah tersebar di kalangan bangsa-bangsa. Cara-cara bangsa kafir mempersembahkan korban merupakan pemutarbalikan cara yang telah ditentukan Allah; maka banyak pengikut upacara-upacara kafir yang bersungguh-sungguh, mempelajari dari bangsa Ibrani arti upacara yang telah ditentukan Ilahi itu, lalu ingin percaya memegang teguh janji tentang seorang Penebus.
KSZ1 25.1 Banyak orang dari buangan itu yang menderita aniaya. Tidak sedikit yang kehilangan nyawanya sebab mereka tidak mau melanggar Sabat dan mengikuti pesta-pesta kekafiran. Sementara penyembah-penyembah berhala bangkit untuk menghancurkan kebenaran, Tuhan membawa hamba-hamba-Nya berhadapan muka dengan muka dengan raja-raja dan penghulu-penghulu supaya mereka itu dan bangsanya dapat menerima terang. Berkali-kali raja-raja yang paling besar dipimpin untuk mengakui kebesaran Allah yang disembah oleh orang-orang tawanan bangsa Ibrani itu.
KSZ1 25.2 Oleh penawanan Babel orang-orang Israel sudah betul-betul bertobat dari penyembahan patung-patung ukiran. Sepanjang abad-abad yang berikut, mereka menderita akibat tindasan musuh-musuh kafir, hingga mereka menyadari benar-benar bahwa kesejahteraan mereka bergantung kepada penurutan mereka pada hukum Allah. Tetapi di pihak sebagian besar dari bangsa itu, penurutan itu tidak didorong oleh kasih. Pendorong hatinya bersifat mementingkan diri. Mereka beramal secara lahiriah kepada Allah sebagai alat untuk mencapai kebesaran nasional. Mereka bukannya menjadi terang dunia, melainkan mengasingkan diri dari dunia supaya terlepas dari pencobaan kepada penyembahan berhala. Dalam petunjuk yang diberikan melalui Musa, Allah telah mengadakan larangan-larangan dalam pergaulan mereka dengan para penyembah berhala; akan tetapi ajaran ini telah disalahtafsirkan. Petunjuk-petunjuk itu sebetulnya dimaksudkan untuk mencegah mereka agar tidak meniru segala kebiasaan orang-orang kafir. Tetapi hal itu telah dipakai untuk membangun sebuah tembok pemisah antara Israel dan segala bangsa lain. Bangsa Yahudi memandang Yerusalem sebagai surga mereka, dan mereka itu sebenarnya merasa cemburu kalau-kalau Tuhan menunjukkan kemurahan kepada bangsa-bangsa kafir.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
10 Juli 2026 | Hari 6
Hari 6: Pasal 2 - UMAT PILIHAN
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 2 - UMAT PILIHAN
Halaman 24-25 | Pasal 2, Paragraf 4-8 | KSZ1 24.1-KSZ1 25.2
Ayat Inti:
Matius 1:23
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu pertama mengarahkan jemaat melihat Yesus sebagai Imanuel, Allah yang bersama manusia. Bacaan ini menolong kita memulai perjalanan misi dengan kekaguman kepada kasih Kristus dan kesadaran bahwa umat pilihan dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa.
Baca:
https://onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-1-hari-6-2026-07-10
Teks Lengkap:
Tetapi bangsa Israel menetapkan harapan mereka pada kebesaran duniawi. Sejak mereka masuk ke negeri Kanaan, mereka telah menyimpang dari hukum-hukum Allah, lalu mengikut jalan bangsa-bangsa kafir. Sia-sialah Allah mengirim amaran kepada mereka dengan perantaraan nabi-nabi-Nya. Sia-sialah mereka menderita kesengsaraan akibat penindasan bangsa-bangsa kafir. Setiap reformasi disusul oleh kemurtadan yang lebih besar. [KSZ1 24.1]
Sekiranya Israel sudah setia kepada Allah, niscaya Ia sudah akan dapat melaksanakan maksud-Nya oleh kehormatan dan kemuliaan mereka. Sekiranya mereka sudah berjalan pada jalan-jalan penurutan, niscaya Ia sudah akan mengangkat mereka “di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Segala bangsa yang di dalam dunia,” kata Musa, “akan melihat bahwa nama Tuhan telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu.” “Waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.” UI. 26:19; 28:10; 4:6. Akan tetapi karena mereka tidak setia, maka maksud Allah dapat dilaksanakan hanya dengan kesusahan dan kehinaan yang tiada habis-habisnya. [KSZ1 24.2]
Mereka terpaksa tunduk ke bawah kekuasaan Babel, dan terceraiberai di seluruh negeri bangsa-bangsa kafir. Dalam kesengsaraan banyak yang membarui kesetiaan mereka kepada perjanjian-Nya. Sementara menggantungkan kecapi mereka pada pokok-pokok gandarusa, serta meratapi Bait Suci yang telah rusak binasa, cahaya kebenaran pun bersinar melalui mereka, dan pengetahuan tentang Allah tersebar di kalangan bangsa-bangsa. Cara-cara bangsa kafir mempersembahkan korban merupakan pemutarbalikan cara yang telah ditentukan Allah; maka banyak pengikut upacara-upacara kafir yang bersungguh-sungguh, mempelajari dari bangsa Ibrani arti upacara yang telah ditentukan Ilahi itu, lalu ingin percaya memegang teguh janji tentang seorang Penebus. [KSZ1 24.3]
Banyak orang dari buangan itu yang menderita aniaya. Tidak sedikit yang kehilangan nyawanya sebab mereka tidak mau melanggar Sabat dan mengikuti pesta-pesta kekafiran. Sementara penyembah-penyembah berhala bangkit untuk menghancurkan kebenaran, Tuhan membawa hamba-hamba-Nya berhadapan muka dengan muka dengan raja-raja dan penghulu-penghulu supaya mereka itu dan bangsanya dapat menerima terang. Berkali-kali raja-raja yang paling besar dipimpin untuk mengakui kebesaran Allah yang disembah oleh orang-orang tawanan bangsa Ibrani itu. [KSZ1 25.1]
Oleh penawanan Babel orang-orang Israel sudah betul-betul bertobat dari penyembahan patung-patung ukiran. Sepanjang abad-abad yang berikut, mereka menderita akibat tindasan musuh-musuh kafir, hingga mereka menyadari benar-benar bahwa kesejahteraan mereka bergantung kepada penurutan mereka pada hukum Allah. Tetapi di pihak sebagian besar dari bangsa itu, penurutan itu tidak didorong oleh kasih. Pendorong hatinya bersifat mementingkan diri. Mereka beramal secara lahiriah kepada Allah sebagai alat untuk mencapai kebesaran nasional. Mereka bukannya menjadi terang dunia, melainkan mengasingkan diri dari dunia supaya terlepas dari pencobaan kepada penyembahan berhala. Dalam petunjuk yang diberikan melalui Musa, Allah telah mengadakan larangan-larangan dalam pergaulan mereka dengan para penyembah berhala; akan tetapi ajaran ini telah disalahtafsirkan. Petunjuk-petunjuk itu sebetulnya dimaksudkan untuk mencegah mereka agar tidak meniru segala kebiasaan orang-orang kafir. Tetapi hal itu telah dipakai untuk membangun sebuah tembok pemisah antara Israel dan segala bangsa lain. Bangsa Yahudi memandang Yerusalem sebagai surga mereka, dan mereka itu sebenarnya merasa cemburu kalau-kalau Tuhan menunjukkan kemurahan kepada bangsa-bangsa kafir. [KSZ1 25.2]