8 September 2026 · Hari 3
Hari 3: Pasal 12 - PENCOBAAN
Halaman 110-111 | Pasal 12, Paragraf 11-15 | KSZ1 110.2-KSZ1 111.3
Ayat Inti
Matius 4:4
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 10 membaca Bab 12: Pencobaan. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 110.2 Banyak orang mengatakan bahwa mustahil Kristus dikalahkan oleh pencobaan. Kalau begitu Ia tidak dapat ditempatkan pada kedudukan Adam; mustahil Ia dapat memperoleh kemenangan yang tidak dapat diperoleh Adam. Sekiranya dalam sesuatu hal pergumulan kita lebih berat daripada yang ditanggung oleh Kristus, maka Ia tidak akan sanggup menolong kita. Tetapi Juruselamat kita itu mengenakan kemanusiaan, dengan segala kemungkinannya. Ia mengenakan sifat-sifat manusia dengan kemungkinan menyerah kepada pencobaan. Tidak suatu pun yang kita tanggung yang tidak pernah ditanggung-Nya.
KSZ1 110.3 Bagi Kristus, seperti juga bagi dua sejoli suci yang di Taman Eden dahulu, selera adalah dasar pencobaan besar yang pertama. Justru di mana kebinasaan itu telah mulai, di situlah pekerjaan penebusan kita mesti mulai. Sebagaimana Adam jatuh oleh pemanjaan selera, demikian juga oleh penyangkalan selera Kristus mesti menang. “Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datangiah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti. Tetapi Yesus menjawab: Ada tertulis, manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
KSZ1 111.1 Sejak zaman Adam hingga zaman Kristus, pemanjaan diri sendiri telah memperbesar kuasa selera dan hawa nafsu, hingga mempunyai kuasa yang hampir tidak terbatas. Demikianlah manusia merosot dan diserang penyakit, dan dengan tenaga mereka sendiri mustahil bagi mereka mengatasinya. Demi kepentingan manusia, Kristus menang oleh menanggung ujian yang paling berat. Untuk kepentingan kita la menjalankan pengendalian diri sendiri yang lebih kuat daripada kelaparan atau maut. Maka dalam kemenangan pertama ini terlibat segala persoalan lain yang berhubungan dengan segenap pergumulan kita dengan kuasa kegelapan.
KSZ1 111.2 Ketika Yesus masuk ke padang belantara, Ia diliputi dengan kemuliaan Bapa. Karena persekutuan-Nya dengan Allah, Ia diangkat di atas kelemahan manusia. Akan tetapi kemuliaan itu lenyap, lalu Ia ditinggalkan bertempur dengan pencobaan. Pencobaan itu mendesak Dia setiap saat. Sifat-sifat kemanusiaan-Nya itu gentar terhadap peperangan yang sedang menantikan Dia. Empat puluh hari lamanya Ia berpuasa dan berdoa. Karena sudah lemah dan kurus akibat lapar, letih lesu dan sengsara dengan penderitaan pikiran, sehingga “begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi” Yesaya 52:14. Sekaranglah kesempatan Setan. Sekarang ia menyangka dapat mengalahkan Kristus.
KSZ1 111.3 Kepada Juruselamat, datanglah satu oknum yang menyaru seperti seorang malaikat dari surga. Seolah-olah hendak menjawab doanya. Ia mengaku mendapat tugas dari Allah untuk mengatakan bahwa puasa Kristus itu sudah berakhir. Sebagaimana Allah telah mengutus seorang malaikat untuk mencegah tangan Abraham dari mempersembahkan Ishak, demikian juga karena merasa puas dengan kerelaan Kristus untuk menempuh jalan yang berlumuran darah, Bapa telah mengutus seorang malaikat untuk melepaskan Dia; inilah kabar yang dibawa kepada Yesus. Juruselamat sudah sangat lemah karena lapar-Nya, Ia ingin sekali mendapat makanan, ketika Setan itu datang kepada-Nya dengan tiba-tiba. Sambil menunjuk kepada batu-batu yang bertebaran di padang belantara itu, dan yang tampaknya seperti roti, penggoda itu berkata, “Jikalau Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
8 September 2026 | Hari 3
Hari 3: Pasal 12 - PENCOBAAN
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 12 - PENCOBAAN
Halaman 110-111 | Pasal 12, Paragraf 11-15 | KSZ1 110.2-KSZ1 111.3
Ayat Inti:
Matius 4:4
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 10 membaca Bab 12: Pencobaan. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-10-hari-3-2026-09-08
Teks Lengkap:
Banyak orang mengatakan bahwa mustahil Kristus dikalahkan oleh pencobaan. Kalau begitu Ia tidak dapat ditempatkan pada kedudukan Adam; mustahil Ia dapat memperoleh kemenangan yang tidak dapat diperoleh Adam. Sekiranya dalam sesuatu hal pergumulan kita lebih berat daripada yang ditanggung oleh Kristus, maka Ia tidak akan sanggup menolong kita. Tetapi Juruselamat kita itu mengenakan kemanusiaan, dengan segala kemungkinannya. Ia mengenakan sifat-sifat manusia dengan kemungkinan menyerah kepada pencobaan. Tidak suatu pun yang kita tanggung yang tidak pernah ditanggung-Nya. [KSZ1 110.2]
Bagi Kristus, seperti juga bagi dua sejoli suci yang di Taman Eden dahulu, selera adalah dasar pencobaan besar yang pertama. Justru di mana kebinasaan itu telah mulai, di situlah pekerjaan penebusan kita mesti mulai. Sebagaimana Adam jatuh oleh pemanjaan selera, demikian juga oleh penyangkalan selera Kristus mesti menang. “Dan setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, akhirnya laparlah Yesus. Lalu datangiah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti. Tetapi Yesus menjawab: Ada tertulis, manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” [KSZ1 110.3]
Sejak zaman Adam hingga zaman Kristus, pemanjaan diri sendiri telah memperbesar kuasa selera dan hawa nafsu, hingga mempunyai kuasa yang hampir tidak terbatas. Demikianlah manusia merosot dan diserang penyakit, dan dengan tenaga mereka sendiri mustahil bagi mereka mengatasinya. Demi kepentingan manusia, Kristus menang oleh menanggung ujian yang paling berat. Untuk kepentingan kita la menjalankan pengendalian diri sendiri yang lebih kuat daripada kelaparan atau maut. Maka dalam kemenangan pertama ini terlibat segala persoalan lain yang berhubungan dengan segenap pergumulan kita dengan kuasa kegelapan. [KSZ1 111.1]
Ketika Yesus masuk ke padang belantara, Ia diliputi dengan kemuliaan Bapa. Karena persekutuan-Nya dengan Allah, Ia diangkat di atas kelemahan manusia. Akan tetapi kemuliaan itu lenyap, lalu Ia ditinggalkan bertempur dengan pencobaan. Pencobaan itu mendesak Dia setiap saat. Sifat-sifat kemanusiaan-Nya itu gentar terhadap peperangan yang sedang menantikan Dia. Empat puluh hari lamanya Ia berpuasa dan berdoa. Karena sudah lemah dan kurus akibat lapar, letih lesu dan sengsara dengan penderitaan pikiran, sehingga “begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi” Yesaya 52:14. Sekaranglah kesempatan Setan. Sekarang ia menyangka dapat mengalahkan Kristus. [KSZ1 111.2]
Kepada Juruselamat, datanglah satu oknum yang menyaru seperti seorang malaikat dari surga. Seolah-olah hendak menjawab doanya. Ia mengaku mendapat tugas dari Allah untuk mengatakan bahwa puasa Kristus itu sudah berakhir. Sebagaimana Allah telah mengutus seorang malaikat untuk mencegah tangan Abraham dari mempersembahkan Ishak, demikian juga karena merasa puas dengan kerelaan Kristus untuk menempuh jalan yang berlumuran darah, Bapa telah mengutus seorang malaikat untuk melepaskan Dia; inilah kabar yang dibawa kepada Yesus. Juruselamat sudah sangat lemah karena lapar-Nya, Ia ingin sekali mendapat makanan, ketika Setan itu datang kepada-Nya dengan tiba-tiba. Sambil menunjuk kepada batu-batu yang bertebaran di padang belantara itu, dan yang tampaknya seperti roti, penggoda itu berkata, “Jikalau Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” [KSZ1 111.3]