5 Oktober 2026 · Hari 2
Hari 2: Pasal 16 - DI DALAM BAIT SUCINYA
Halaman 156-157 | Pasal 16, Paragraf 7-12 | KSZ1 156.1-KSZ1 157.3
Ayat Inti
Yohanes 2:16
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 14 membaca Bab 16: Di dalam Bait Suci-Nya. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 156.1 Ketika Tuhan turun ke atas Gunung Sinai, tempat itu disucikan oleh hadirat-Nya. Musa diperintahkan untuk memberi batas di sekeliling gu_ nung itu serta menyucikannya, dan sabda Tuhan terdengar dalam amaran: “Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapa pun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati. Tangan seorang pun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia.” Kel. 19:12, 13. Demikianlah diberikan pelajaran bahwa di mana saja Allah menunjukkan hadirat-Nya, tempat itu suci adanya. Pekarangan Bait Suci Allah sebenarnya harus dianggap suci. Namun dalam perjuangan untuk mendapat keuntungan, semuanya ini sudah dilupakan.
KSZ1 156.2 Imam-imam dan penghulu-penghulu disebut sebagai wakil-wakil Allah bagi bangsa itu; sebenarnya mereka harus membetulkan perlakuan salah terhadap halaman Bait Suci itu. Seharusnya mereka memberikan kepada orang banyak suatu teladan keikhlasan dan belas kasihan. Gantinya mempelajari keuntungan mereka sendiri, seharusnya mereka mempertimbangkan keadaan dan keperluan orang-orang yang berbakti, dan seharusnya bersedia menolong orang-orang yang tidak mampu membeli korban yang dituntut. Akan tetapi hal ini tidak mereka lakukan. Loba akan kekayaan telah mengeraskan hati mereka.
KSZ1 156.3 Ke pesta ini datang juga orang-orang yang menderita, orang-orang yang miskin dan susah. Yang buta, yang lumpuh, dan yang tuli ada di sana. Ada yang dibawa di atas tempat tidur. Banyak orang yang datang dalam keadaan terlalu miskin untuk membeli persembahan yang paling sederhana sekalipun untuk Tuhan, bahkan terlalu miskin untuk membeli makanan guna menghilangkan lapar mereka. Orang-orang ini merasa sangat susah mendengar ucapan imam-imam. Imam-imam itu mem-banggakan kesalehan mereka; mereka mengaku sebagai wali orang banyak itu; tetapi mereka tidak mempunyai simpati atau belas kasihan. Orang miskin, orang sakit, orang yang sudah hampir mati, dengan sia-sia saja menyampaikan permohonan untuk mendapat pertolongan. Penderitaan mereka tidak menimbulkan rasa kasihan dalam hati imam-imam itu.
KSZ1 157.1 Waktu Yesus masuk ke dalam Bait Suci itu, diperhatikan-Nya seluruh peristiwa itu. Dilihat-Nya transaksi yang tidak adil itu. Dilihat-Nya duka orang miskin, yang menyangka bahwa tanpa pencurahan darah, tidak akan ada ampunan untuk dosa-dosa mereka. Dilihat-Nya halaman luar Bait Suci-Nya itu dijadikan suatu tempat perdagangan yang najis. Halaman suci itu telah menjadi suatu pasar yang luas.
KSZ1 157.2 Kristus melihat bahwa sesuatu mesti dilakukan. Banyak sekali upacara yang diperintahkan kepada orang banyak tanpa petunjuk-petunjuk yang sepantasnya tentang makna upacara itu. Orang-orang yang berbakti mempersembahkan korban mereka tanpa pengertian bahwa korban tersebut melambangkan satu-satunya Korban yang sempurna. Dan di antara mereka, dengan tidak dikenal serta tidak dihormati, berdirilah Dia yang dilambangkan oleh semua upacara mereka itu. Ia telah memberikan petunjuk tentang segala persembahan itu. Ia mengerti nilai persembahan itu secara lambang, dan Ia melihat bahwa semuanya itu sudah diputarbalikkan dan disalah mengerti. Perbaktian kerohanian sedang menghilang dengan begitu cepat. Tidak ada lagi hubungan yang mengikat imamimam dan penghulu-penghulu itu dengan Allah mereka. Pekerjaan Kristus ialah untuk menetapkan suatu perbaktian yang berlainan sama sekali.
KSZ1 157.3 Dengan pandangan yang tajam, Kristus memperhatikan peristiwa yang sedang terjadi di hadapan-Nya, sementara Ia berdiri pada anak tangga di halaman Bait Suci itu. Dengan mata nubuatan Ia memandang ke masa depan, dan melihat bukan saja tahun-tahun, melainkan juga abadabad dan zaman-zaman. Ia melihat bagaimana imam-imam dan penghulu-penghulu akan mengingkari hak orang miskin, serta melarang dimasyhurkannya Injil kepada orang miskin. Ia melihat bagaimana kasih Allah akan disembunyikan dari orang berdosa, dan orang akan memperlakukan rahmat-Nya sebagai barang dagangan. Sedang Ia melihat peristiwa itu, murka, wewenang, dan kuasa nampak pada wajah-Nya. Perhatian orang banyak itu tertarik kepada-Nya. Mata orang-orang yang asyik dalam perdagangan yang najis itu terpaku kepada wajah-Nya. Mereka tak dapat mengalihkan pandangan mereka dari pada-Nya. Mereka merasa bahwa Orang ini membaca pikiran mereka yang terdalam sekalipun, serta mengetahui motif mereka yang tersembunyi. Ada pula yang berusaha menyembunyikan muka mereka, seolah-olah segala perbuatan mereka yang jahat itu ada tertulis pada wajah mereka, untuk diteliti oleh mata yang tajam itu.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
5 Oktober 2026 | Hari 2
Hari 2: Pasal 16 - DI DALAM BAIT SUCINYA
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 16 - DI DALAM BAIT SUCINYA
Halaman 156-157 | Pasal 16, Paragraf 7-12 | KSZ1 156.1-KSZ1 157.3
Ayat Inti:
Yohanes 2:16
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 14 membaca Bab 16: Di dalam Bait Suci-Nya. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-14-hari-2-2026-10-05
Teks Lengkap:
Ketika Tuhan turun ke atas Gunung Sinai, tempat itu disucikan oleh hadirat-Nya. Musa diperintahkan untuk memberi batas di sekeliling gu_ nung itu serta menyucikannya, dan sabda Tuhan terdengar dalam amaran: “Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapa pun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati. Tangan seorang pun tidak boleh merabanya, sebab pastilah ia dilempari dengan batu atau dipanahi sampai mati; baik binatang baik manusia.” Kel. 19:12, 13. Demikianlah diberikan pelajaran bahwa di mana saja Allah menunjukkan hadirat-Nya, tempat itu suci adanya. Pekarangan Bait Suci Allah sebenarnya harus dianggap suci. Namun dalam perjuangan untuk mendapat keuntungan, semuanya ini sudah dilupakan. [KSZ1 156.1]
Imam-imam dan penghulu-penghulu disebut sebagai wakil-wakil Allah bagi bangsa itu; sebenarnya mereka harus membetulkan perlakuan salah terhadap halaman Bait Suci itu. Seharusnya mereka memberikan kepada orang banyak suatu teladan keikhlasan dan belas kasihan. Gantinya mempelajari keuntungan mereka sendiri, seharusnya mereka mempertimbangkan keadaan dan keperluan orang-orang yang berbakti, dan seharusnya bersedia menolong orang-orang yang tidak mampu membeli korban yang dituntut. Akan tetapi hal ini tidak mereka lakukan. Loba akan kekayaan telah mengeraskan hati mereka. [KSZ1 156.2]
Ke pesta ini datang juga orang-orang yang menderita, orang-orang yang miskin dan susah. Yang buta, yang lumpuh, dan yang tuli ada di sana. Ada yang dibawa di atas tempat tidur. Banyak orang yang datang dalam keadaan terlalu miskin untuk membeli persembahan yang paling sederhana sekalipun untuk Tuhan, bahkan terlalu miskin untuk membeli makanan guna menghilangkan lapar mereka. Orang-orang ini merasa sangat susah mendengar ucapan imam-imam. Imam-imam itu mem-banggakan kesalehan mereka; mereka mengaku sebagai wali orang banyak itu; tetapi mereka tidak mempunyai simpati atau belas kasihan. Orang miskin, orang sakit, orang yang sudah hampir mati, dengan sia-sia saja menyampaikan permohonan untuk mendapat pertolongan. Penderitaan mereka tidak menimbulkan rasa kasihan dalam hati imam-imam itu. [KSZ1 156.3]
Waktu Yesus masuk ke dalam Bait Suci itu, diperhatikan-Nya seluruh peristiwa itu. Dilihat-Nya transaksi yang tidak adil itu. Dilihat-Nya duka orang miskin, yang menyangka bahwa tanpa pencurahan darah, tidak akan ada ampunan untuk dosa-dosa mereka. Dilihat-Nya halaman luar Bait Suci-Nya itu dijadikan suatu tempat perdagangan yang najis. Halaman suci itu telah menjadi suatu pasar yang luas. [KSZ1 157.1]
Kristus melihat bahwa sesuatu mesti dilakukan. Banyak sekali upacara yang diperintahkan kepada orang banyak tanpa petunjuk-petunjuk yang sepantasnya tentang makna upacara itu. Orang-orang yang berbakti mempersembahkan korban mereka tanpa pengertian bahwa korban tersebut melambangkan satu-satunya Korban yang sempurna. Dan di antara mereka, dengan tidak dikenal serta tidak dihormati, berdirilah Dia yang dilambangkan oleh semua upacara mereka itu. Ia telah memberikan petunjuk tentang segala persembahan itu. Ia mengerti nilai persembahan itu secara lambang, dan Ia melihat bahwa semuanya itu sudah diputarbalikkan dan disalah mengerti. Perbaktian kerohanian sedang menghilang dengan begitu cepat. Tidak ada lagi hubungan yang mengikat imamimam dan penghulu-penghulu itu dengan Allah mereka. Pekerjaan Kristus ialah untuk menetapkan suatu perbaktian yang berlainan sama sekali. [KSZ1 157.2]
Dengan pandangan yang tajam, Kristus memperhatikan peristiwa yang sedang terjadi di hadapan-Nya, sementara Ia berdiri pada anak tangga di halaman Bait Suci itu. Dengan mata nubuatan Ia memandang ke masa depan, dan melihat bukan saja tahun-tahun, melainkan juga abadabad dan zaman-zaman. Ia melihat bagaimana imam-imam dan penghulu-penghulu akan mengingkari hak orang miskin, serta melarang dimasyhurkannya Injil kepada orang miskin. Ia melihat bagaimana kasih Allah akan disembunyikan dari orang berdosa, dan orang akan memperlakukan rahmat-Nya sebagai barang dagangan. Sedang Ia melihat peristiwa itu, murka, wewenang, dan kuasa nampak pada wajah-Nya. Perhatian orang banyak itu tertarik kepada-Nya. Mata orang-orang yang asyik dalam perdagangan yang najis itu terpaku kepada wajah-Nya. Mereka tak dapat mengalihkan pandangan mereka dari pada-Nya. Mereka merasa bahwa Orang ini membaca pikiran mereka yang terdalam sekalipun, serta mengetahui motif mereka yang tersembunyi. Ada pula yang berusaha menyembunyikan muka mereka, seolah-olah segala perbuatan mereka yang jahat itu ada tertulis pada wajah mereka, untuk diteliti oleh mata yang tajam itu. [KSZ1 157.3]