17 Oktober 2026 · Hari 7
Hari 7: Pasal 17 - NIKODEMUS
Halaman 177-178 | Pasal 17, Paragraf 29-32 | KSZ1 177.1-KSZ1 178.2
Ayat Inti
Yohanes 3:16
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 15 membaca Bab 17: Nikodemus. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 177.1 Dalam wawancara dengan Nikodemus itu, Yesus memaparkan rencana keselamatan, dan tugas-Nya ke dunia ini. Tidak satu pun terlewat dari pembicaraan-Nya, yang Ia terangkan dengan begitu sempurna, tahap demi tahap, adalah pekerjaan yang perlu dilakukan di dalam hati semua orang yang hendak mewarisi kerajaan surga. Justru pada permulaan sekali masa kerja-Nya, Ia memaparkan kebenaran kepada seorang anggota Sanhedrin, kepada pikiran yang paling suka menerima keterangan, dan kepada seorang guru yang diangkat oleh bangsa itu. Tetapi para pemimpin Israel tidak menyambut terang itu dengan baik. Nikodemus menyimpan kebenaran itu di dalam hatinya, dan selama tiga tahun hanya sedikit sekali buahnya yang kelihatan.
KSZ1 177.2 Akan tetapi Yesus tahu benar akan tanah tempat Ia menaburkan benih itu. Perkataan yang diucapkan pada waktu malam kepada seorang pendengar di atas bukit yang sunyi itu tidak hilang. Seketika lamanya Nikodemus tidak mengakui Kristus secara terang-terangan, akan tetapi ia memperhatikan kehidupan-Nya, dan merenungkan segala pengajaranNya. Dalam majelis Sanhedrin berulang-ulang ia menggagalkan maksud jahat imam-imam yang hendak membinasakan Dia. Ketika pada akhirnya Yesus ditinggikan di salib, Nikodemus terkenang kepada pengajaran di atas Bukit Zaitun dahulu: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Te~ rang dari wawancara rahasia tersebut menerangi salib di Golgota itu, dan Nikodemus melihat di dalam Yesus Penebus dunia ini.
KSZ1 178.1 Setelah Tuhan naik ke surga, tatkala murid-murid itu sudah dicerai beraikan oleh aniaya, Nikodemus tampil ke depan dengan gagah berani. Ia menggunakan kekayaannya untuk menyokong jemaat yang masih bayi itu yang sudah diharapkan oleh orang Yahudi akan dihapuskan pada kematian Kristus. Pada masa bahaya, ia yang telah bersikap berhati-hati dan ragu-ragu itu, menjadi teguh seperti batu karang, meneguhkan iman murid-murid itu, serta menyediakan uang untuk memajukan pekerjaan Injil. Ia diolok-olok serta dianiaya oleh orang-orang yang dahulu telah menghormati dia. Ia menjadi miskin dalam harta benda dunia ini; namun ia tidak bimbang dalam iman yang berasal dari pertemuan malam dengan Yesus itu.
KSZ1 178.2 Nikodemus menuturkan kepada Yohanes cerita tentang wawancara itu, dan oleh pena Yohanes cerita itu ditulis untuk menjadi pelajaran bagi berjuta-juta orang. Kebenaran yang diajarkan dalamnya itu sama pentingnya sekarang sebagaimana pada malam hening yang di atas bukit yang penuh bayangan itu, ketika penghulu Yahudi itu datang hendak mempelajari jalan kehidupan dari Guru Galilea yang rendah hati itu.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
17 Oktober 2026 | Hari 7
Hari 7: Pasal 17 - NIKODEMUS
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 17 - NIKODEMUS
Halaman 177-178 | Pasal 17, Paragraf 29-32 | KSZ1 177.1-KSZ1 178.2
Ayat Inti:
Yohanes 3:16
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 15 membaca Bab 17: Nikodemus. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-15-hari-7-2026-10-17
Teks Lengkap:
Dalam wawancara dengan Nikodemus itu, Yesus memaparkan rencana keselamatan, dan tugas-Nya ke dunia ini. Tidak satu pun terlewat dari pembicaraan-Nya, yang Ia terangkan dengan begitu sempurna, tahap demi tahap, adalah pekerjaan yang perlu dilakukan di dalam hati semua orang yang hendak mewarisi kerajaan surga. Justru pada permulaan sekali masa kerja-Nya, Ia memaparkan kebenaran kepada seorang anggota Sanhedrin, kepada pikiran yang paling suka menerima keterangan, dan kepada seorang guru yang diangkat oleh bangsa itu. Tetapi para pemimpin Israel tidak menyambut terang itu dengan baik. Nikodemus menyimpan kebenaran itu di dalam hatinya, dan selama tiga tahun hanya sedikit sekali buahnya yang kelihatan. [KSZ1 177.1]
Akan tetapi Yesus tahu benar akan tanah tempat Ia menaburkan benih itu. Perkataan yang diucapkan pada waktu malam kepada seorang pendengar di atas bukit yang sunyi itu tidak hilang. Seketika lamanya Nikodemus tidak mengakui Kristus secara terang-terangan, akan tetapi ia memperhatikan kehidupan-Nya, dan merenungkan segala pengajaranNya. Dalam majelis Sanhedrin berulang-ulang ia menggagalkan maksud jahat imam-imam yang hendak membinasakan Dia. Ketika pada akhirnya Yesus ditinggikan di salib, Nikodemus terkenang kepada pengajaran di atas Bukit Zaitun dahulu: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.” Te~ rang dari wawancara rahasia tersebut menerangi salib di Golgota itu, dan Nikodemus melihat di dalam Yesus Penebus dunia ini. [KSZ1 177.2]
Setelah Tuhan naik ke surga, tatkala murid-murid itu sudah dicerai beraikan oleh aniaya, Nikodemus tampil ke depan dengan gagah berani. Ia menggunakan kekayaannya untuk menyokong jemaat yang masih bayi itu yang sudah diharapkan oleh orang Yahudi akan dihapuskan pada kematian Kristus. Pada masa bahaya, ia yang telah bersikap berhati-hati dan ragu-ragu itu, menjadi teguh seperti batu karang, meneguhkan iman murid-murid itu, serta menyediakan uang untuk memajukan pekerjaan Injil. Ia diolok-olok serta dianiaya oleh orang-orang yang dahulu telah menghormati dia. Ia menjadi miskin dalam harta benda dunia ini; namun ia tidak bimbang dalam iman yang berasal dari pertemuan malam dengan Yesus itu. [KSZ1 178.1]
Nikodemus menuturkan kepada Yohanes cerita tentang wawancara itu, dan oleh pena Yohanes cerita itu ditulis untuk menjadi pelajaran bagi berjuta-juta orang. Kebenaran yang diajarkan dalamnya itu sama pentingnya sekarang sebagaimana pada malam hening yang di atas bukit yang penuh bayangan itu, ketika penghulu Yahudi itu datang hendak mempelajari jalan kehidupan dari Guru Galilea yang rendah hati itu. [KSZ1 178.2]