25 Oktober 2026 · Hari 1
Hari 1: Pasal 19 - DI SUMUR YAKUB
Halaman 185-186 | Pasal 19, Paragraf 1-6 | KSZ1 185.1-KSZ1 186.4
Ayat Inti
Yohanes 4:14
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 17 membaca Bab 19: Di Sumur Yakub. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 185.1 DALAM perjalanan ke Galilea Yesus berjalan melalui Samaria. Kira-kira tengah hari tibalah Ia di lembah Sikhem yang permai. Begitu memasuki lembah ini. Karena sudah letih dari perjalanan-Nya, duduklah Ia di sini untuk beristirahat sementara murid-murid-Nya pergi membeli makanan.
KSZ1 185.2 Bangsa Yahudi dan bangsa Samaria bermusuhan keras dan sedapatdapatnya menghindarkan segala hubungan satu dengan yang lain. Berjual beli dengan orang Samaria dalam keadaan perlu dianggap sah oleh rabi-rabi; tetapi semua urusan sosial dengan mereka dilarang. Seorang Yahudi tidak mau meminjam dari orang Samaria, ataupun menerima sesuatu kebaikan bahkan sesuap roti atau secangkir air sekalipun. Dalam membeli makanan itu, murid-murid bertindak sesuai dengan adat bangsa mereka. Tetapi mereka tidak berbuat lebih dari itu. Meminta pertolongan dari orang Samaria, atau dengan cara apa pun berusaha menolong mereka, tidak masuk akal bagi murid-murid Kristus sekalipun. Sedang Yesus duduk di pinggir sumur itu, Ia merasa lemas karena lapar dan haus. Sudah jauh sekali perjalanan yang ditempuh sejak paginya, dan sekarang teriknya panas matahari siang hari sedang menimpa Dia. Dahaga-Nya semakin terasa mengingat air sejuk dan menyegarkan yang begitu dekat, namun yang tidak dapat diperoleh-Nya; sebab Ia tidak punya tali ataupun timba, sedangkan sumur itu dalam. Ia menderita nasib manusia, maka dinantikan-Nyalah orang datang menimba air.
KSZ1 186.1 Seorang wanita Samaria datang, dan seolah-olah tidak sadar akan ha-dirat-Nya, ia mengisi kendinya dengan air. Waktu ia berpaling hendak pergi, Yesus meminta air minum dari padanya. Permintaan yang begitu tidak akan ditolak oleh orang Timur mana pun. Di Timur, air disebut pemberian Allah. Menawarkan air minum kepada seorang pengembara yang haus dianggap sebagai suatu kewajiban yang begitu suci sehingga orang Arab di padang belantara mau menyimpang dari perjalanannya agar dapat melakukannya. Keben cian antara orang Yahudi dan orang Samaria mencegahkan wanita itu dari menawarkan sesuatu kebajikan kepada Yesus; tetapi Juruselamat sedang berusaha hendak mendapatkan kunci hati wanita itu, dan dengan kecerdikan yang lahir dari kasih Ilahi, Ia meminta pertolongan, bukan menawarkannya. Tawaran kebajikan mungkin akan ditolak; tetapi percaya menggugah percaya. Raja surga datang kepada jiwa terbuang ini, memohonkan layanan dari padanya. Dia yang menjadikan laut, yang mengendalikan samudera luas lepas, yang membuka segala mata air dan saluran di bumi ini, mengaso dari kepenatan-Nya di sumur Yakub, dan bergantung pada kemurahan hati seorang yang tidak dikenal untuk pemberian secangkir air minum saja.
KSZ1 186.2 Wanita itu melihat bahwa Yesus adalah seorang Yahudi. Dalam keheranannya ia lupa mengabulkan permintaan-Nya itu, tetapi berusaha mempelajari sebab-sebab permintaan itu. “Masakan Engkau,” sahutnya, “Seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?”
KSZ1 186.3 Yesus menjawab, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan sia-pakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Engkau heran mengapa Aku meminta dari padamu pertolongan yang begitu kecil yaitu seteguk air dari sumur yang di kaki kita ini. Sekiranya engkau meminta dari pada-Ku, maka Aku tentu memberi kepadamu air hidup yang kekal.
KSZ1 186.4 Wanita itu belum mengerti akan ucapan Kristus itu, akan tetapi ia me-rasakan maknanya yang dalam. Caranya yang menganggap remeh dan menantang itu pun mulailah berubah. Karena menyangka bahwa Yesus berbicara tentang sumur yang di depan mereka, ia pun berkata, “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar daripada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya?” Ia melihat di depannya hanya se-orang pengembara yang kehausan, letih dari perjalanan dan penuh debu. Dalam pikirannya dibandingkannya Dia dengan Yakub, nenek moyang yang terhormat itu. Ia merasa bangga dengan sewajarnya bahwa tidak ada sumur lain lagi yang dapat disamakan dengan sumur yang disediakan oleh nenek moyang itu. Ia sedang menoleh ke belakang kepada para nenek moyang, dan ke depan pada hari kedatangan Mesias itu, sementara Harapan segala nenek moyang itu, yakni Mesias sendiri, sudah berada di sampingnya, tetapi ia tidak mengenal Dia. Betapa banyaknya jiwa yang haus sekarang ini ada di dekat pancaran air hidup, namun mereka memandang jauh untuk mendapat mata air hidup! “Jangan katakan di dalam hatimu: ‘Siapakah akan naik ke surga?’ yaitu: untuk membawa Yesus turun, atau: ‘Siapakah akan turun ke jurang maut?’ yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati.... Firman itu dekat kepa-damu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.... Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10:6-9.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
25 Oktober 2026 | Hari 1
Hari 1: Pasal 19 - DI SUMUR YAKUB
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 19 - DI SUMUR YAKUB
Halaman 185-186 | Pasal 19, Paragraf 1-6 | KSZ1 185.1-KSZ1 186.4
Ayat Inti:
Yohanes 4:14
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 17 membaca Bab 19: Di Sumur Yakub. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-17-hari-1-2026-10-25
Teks Lengkap:
DALAM perjalanan ke Galilea Yesus berjalan melalui Samaria. Kira-kira tengah hari tibalah Ia di lembah Sikhem yang permai. Begitu memasuki lembah ini. Karena sudah letih dari perjalanan-Nya, duduklah Ia di sini untuk beristirahat sementara murid-murid-Nya pergi membeli makanan. [KSZ1 185.1]
Bangsa Yahudi dan bangsa Samaria bermusuhan keras dan sedapatdapatnya menghindarkan segala hubungan satu dengan yang lain. Berjual beli dengan orang Samaria dalam keadaan perlu dianggap sah oleh rabi-rabi; tetapi semua urusan sosial dengan mereka dilarang. Seorang Yahudi tidak mau meminjam dari orang Samaria, ataupun menerima sesuatu kebaikan bahkan sesuap roti atau secangkir air sekalipun. Dalam membeli makanan itu, murid-murid bertindak sesuai dengan adat bangsa mereka. Tetapi mereka tidak berbuat lebih dari itu. Meminta pertolongan dari orang Samaria, atau dengan cara apa pun berusaha menolong mereka, tidak masuk akal bagi murid-murid Kristus sekalipun. Sedang Yesus duduk di pinggir sumur itu, Ia merasa lemas karena lapar dan haus. Sudah jauh sekali perjalanan yang ditempuh sejak paginya, dan sekarang teriknya panas matahari siang hari sedang menimpa Dia. Dahaga-Nya semakin terasa mengingat air sejuk dan menyegarkan yang begitu dekat, namun yang tidak dapat diperoleh-Nya; sebab Ia tidak punya tali ataupun timba, sedangkan sumur itu dalam. Ia menderita nasib manusia, maka dinantikan-Nyalah orang datang menimba air. [KSZ1 185.2]
Seorang wanita Samaria datang, dan seolah-olah tidak sadar akan ha-dirat-Nya, ia mengisi kendinya dengan air. Waktu ia berpaling hendak pergi, Yesus meminta air minum dari padanya. Permintaan yang begitu tidak akan ditolak oleh orang Timur mana pun. Di Timur, air disebut pemberian Allah. Menawarkan air minum kepada seorang pengembara yang haus dianggap sebagai suatu kewajiban yang begitu suci sehingga orang Arab di padang belantara mau menyimpang dari perjalanannya agar dapat melakukannya. Keben cian antara orang Yahudi dan orang Samaria mencegahkan wanita itu dari menawarkan sesuatu kebajikan kepada Yesus; tetapi Juruselamat sedang berusaha hendak mendapatkan kunci hati wanita itu, dan dengan kecerdikan yang lahir dari kasih Ilahi, Ia meminta pertolongan, bukan menawarkannya. Tawaran kebajikan mungkin akan ditolak; tetapi percaya menggugah percaya. Raja surga datang kepada jiwa terbuang ini, memohonkan layanan dari padanya. Dia yang menjadikan laut, yang mengendalikan samudera luas lepas, yang membuka segala mata air dan saluran di bumi ini, mengaso dari kepenatan-Nya di sumur Yakub, dan bergantung pada kemurahan hati seorang yang tidak dikenal untuk pemberian secangkir air minum saja. [KSZ1 186.1]
Wanita itu melihat bahwa Yesus adalah seorang Yahudi. Dalam keheranannya ia lupa mengabulkan permintaan-Nya itu, tetapi berusaha mempelajari sebab-sebab permintaan itu. “Masakan Engkau,” sahutnya, “Seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” [KSZ1 186.2]
Yesus menjawab, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan sia-pakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” Engkau heran mengapa Aku meminta dari padamu pertolongan yang begitu kecil yaitu seteguk air dari sumur yang di kaki kita ini. Sekiranya engkau meminta dari pada-Ku, maka Aku tentu memberi kepadamu air hidup yang kekal. [KSZ1 186.3]
Wanita itu belum mengerti akan ucapan Kristus itu, akan tetapi ia me-rasakan maknanya yang dalam. Caranya yang menganggap remeh dan menantang itu pun mulailah berubah. Karena menyangka bahwa Yesus berbicara tentang sumur yang di depan mereka, ia pun berkata, “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? Adakah Engkau lebih besar daripada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya?” Ia melihat di depannya hanya se-orang pengembara yang kehausan, letih dari perjalanan dan penuh debu. Dalam pikirannya dibandingkannya Dia dengan Yakub, nenek moyang yang terhormat itu. Ia merasa bangga dengan sewajarnya bahwa tidak ada sumur lain lagi yang dapat disamakan dengan sumur yang disediakan oleh nenek moyang itu. Ia sedang menoleh ke belakang kepada para nenek moyang, dan ke depan pada hari kedatangan Mesias itu, sementara Harapan segala nenek moyang itu, yakni Mesias sendiri, sudah berada di sampingnya, tetapi ia tidak mengenal Dia. Betapa banyaknya jiwa yang haus sekarang ini ada di dekat pancaran air hidup, namun mereka memandang jauh untuk mendapat mata air hidup! “Jangan katakan di dalam hatimu: ‘Siapakah akan naik ke surga?’ yaitu: untuk membawa Yesus turun, atau: ‘Siapakah akan turun ke jurang maut?’ yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati.... Firman itu dekat kepa-damu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.... Jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” Roma 10:6-9. [KSZ1 186.4]