30 Oktober 2026 · Hari 6
Hari 6: Pasal 19 - DI SUMUR YAKUB
Halaman 194-197 | Pasal 19, Paragraf 31-36 | KSZ1 194.3-KSZ1 197.1
Ayat Inti
Yohanes 4:14
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 17 membaca Bab 19: Di Sumur Yakub. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 194.3 Dalam perkataan yang diucapkan kepada wanita di pinggir sumur itu, bibit baik telah ditaburkan, dan betapa segera panennya diperoleh. Orang-orang Samaria itu datang dan mendengarkan Yesus serta percaya pada-Nya. Dengan mengerumuni Dia di sumur itu, mereka menghadapkan pertanyaan-pertanyaan kepada-Nya, dan dengan hasrat yang besar menerima segala keterangan-Nya tentang banyak perkara yang selama itu tidak jelas bagi mereka. Sementara mereka mendengar, kebingungan mereka pun lenyap. Mereka bagaikan suatu umat yang berada dalam kegelapan besar yang melihat cahaya yang memancar dengan tiba-tiba hingga mereka mencapai siang hari. Akan tetapi mereka belum merasa puas dengan pertemuan yang singkat ini. Mereka masih ingin mendengar lebih jauh, dan supaya sahabat-sahabat mereka juga mendengarkan Guru ajaib itu. Mereka mengundang Dia ke kota mereka serta memohon ke-pada-Nya supaya tinggal dengan mereka. Dua hari lamanya Ia tinggal di Samaria, dan banyak lagi yang percaya pada-Nya.
KSZ1 195.1 Orang Farisi memandang hina kesederhanaan Yesus. Mereka menga-baikan segala mukjizat-Nya, dan meminta suatu tanda bahwa Ia adalah Anak Allah. Tetapi orang Samaria itu tidak meminta sesuatu tanda apa pun, dan Yesus tidak mengadakan mukjizat di antara mereka, kecuali da-lam menyatakan rahasia hidupnya kepada wanita di sumur itu. Namun banyak orang yang menerima Dia. Dalam kegembiraan mereka yang baru itu berkatalah mereka kepada wanita itu, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”
KSZ1 195.2 Orang Samaria percaya bahwa Mesias akan datang sebagai Penebus, bukan hanya bagi bangsa Yahudi, tetapi juga bagi dunia. Roh Kudus de-ngan perantaraan Musa telah menubuatkan Dia sebagai seorang nabi yang datang dari Allah. Dengan perantaraan Yakub telah dikatakan bahwa kepada-Nya segala bangsa akan menurut; dan dengan perantaraan Abraham, bahwa dalam Dialah segala bangsa di dunia ini diberkati. Di atas ucapan Alkitab inilah bangsa Samaria itu mengalaskan iman mereka pada Mesias. Bangsa Yahudi telah salah menafsirkan nabi-nabi yang be-lakangan, dengan menganggap bahwa kemuliaan kedatangan Kristus yang kedua kali akan dialami pada kedatangan-Nya yang pertama kali. Itulah sebabnya orang Samaria mengabaikan semua tulisan suci kecuali yang diberikan dengan perantaraan Musa. Tetapi ketika Juruselamat menghapus semua tafsiran yang salah ini, banyak yang menerima nubuatan-nubuatan itu dan juga perkataan Kristus sendiri mengenai ke-rajaan Allah. Yesus sudah mulai merubuhkan tembok pemisah antara orang Yahudi dan orang kafir, dan memasyhurkan kabar keselamatan kepada dunia. Walaupun Ia seorang Yahudi, Ia bergaul bebas dengan orang Samaria, meniadakan adat istiadat Keparisian bangsa-Nya. Di tengah prasangka mereka Ia menerima sikap ramah tamah dari bangsa yang dibenci itu. Ia tidur di rumah mereka, makan sehidangan dengan mereka, ikut menikmati makanan yang disediakan dan dihidangkan oleh tangan mereka, mengajar di jalan raya mereka, serta memperlakukan mereka dengan sangat murah hati dan sopan santun.
KSZ1 196.1 Dalam Bait Suci di Yerusalem sebuah tembok yang rendah memisahkan halaman sebelah luar dari segala bagian lain dari bangunan yang suci itu. Pada tembok ini ada tulisan dalam bermacam-macam bahasa, yang mengatakan bahwa tidak seorang pun kecuali orang Yahudi diizinkan melalui batas ini. Sekiranya seorang kafir dengan ceroboh berani masuk ke dalam ruangan sebelah dalam itu, ia sudah menajiskan Bait Suci itu, dan sudah tentu ia akan membayar hukuman dengan nyawanya sendiri. Tetapi Yesus pencipta Bait Suci dan segala upacaranya itu, menarik orang kafir itu kepada-Nya dengan ikatan simpati manusia, sementara rahmat Ilahi-Nya membawakan kepada mereka keselamatan yang ditolak oleh orang Yahudi.
KSZ1 196.2 Yesus tinggal di Samaria dengan maksud untuk mendatangkan berkat kepada murid-murid-Nya, yang masih di bawah pengaruh kefanatikan Yahudi. Mereka merasa bahwa kesetiaan kepada bangsa mereka sendiri meminta supaya mereka memelihara permusuhan terhadap orang Samaria. Mereka heran melihat kelakuan Yesus. Mereka tidak dapat menolak untuk mengikuti teladan yang diberikan-Nya itu, dan selama dua hari di Samaria, kesetiaan kepada-Nya menguasai segenap prasangka mereka; namun dalam hati mereka tidak merasa senang. Sangat lambat bagi mereka untuk memahami bahwa penghinaan dan kebencian mereka harus memberi tempat bagi belas kasihan dan simpati. Tetapi setelah Tuhan naik ke surga, pelajaran-pelajaran yang diberikan-Nya itu datang kepada mereka dengan suatu arti yang baru. Setelah kecurahan Roh Kudus, mereka pun terkenanglah akan pandangan Juruselamat, perkataan-Nya, penghormatan dan kelembutan pembawaan-Nya terhadap orang-orang asing yang terhina itu. Waktu Petrus pergi memasyhurkan Injil di Samaria, ia membawa roh seperti itu dalam pekerjaannya sendiri. Ketika Yohanes dipanggil ke Efesus dan Smirna, terkenanglah ia akan pengalaman di Sikhem itu, lalu ia dipenuhi dengan perasaan syukur kepada Guru Ilahi, yang oleh melihat lebih dahulu segala kesukaran yang harus mereka hadapi, telah memberikan kepada mereka pertolongan dalam teladan-Nya sendiri.
KSZ1 197.1 Juruselamat masih menjalankan pekerjaan yang sama seperti ketika Ia menawarkan air hidup kepada wanita Samaria itu. Orang-orang yang menyebut dirinya pengikut-pengikut-Nya, boleh jadi menghina serta menghindar orang-orang terbuang itu; tetapi tiada keadaan kelahiran atau kebangsaan, tiada keadaan hidup, yang dapat menjauhkan kasih-Nya dari anak-anak manusia. Kepada setiap jiwa, meskipun berdosa, Yesus berkata, kalau engkau sudah meminta kepada-Ku, tentu saja Aku telah memberikan air hidup kepadamu.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
30 Oktober 2026 | Hari 6
Hari 6: Pasal 19 - DI SUMUR YAKUB
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 19 - DI SUMUR YAKUB
Halaman 194-197 | Pasal 19, Paragraf 31-36 | KSZ1 194.3-KSZ1 197.1
Ayat Inti:
Yohanes 4:14
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 17 membaca Bab 19: Di Sumur Yakub. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-17-hari-6-2026-10-30
Teks Lengkap:
Dalam perkataan yang diucapkan kepada wanita di pinggir sumur itu, bibit baik telah ditaburkan, dan betapa segera panennya diperoleh. Orang-orang Samaria itu datang dan mendengarkan Yesus serta percaya pada-Nya. Dengan mengerumuni Dia di sumur itu, mereka menghadapkan pertanyaan-pertanyaan kepada-Nya, dan dengan hasrat yang besar menerima segala keterangan-Nya tentang banyak perkara yang selama itu tidak jelas bagi mereka. Sementara mereka mendengar, kebingungan mereka pun lenyap. Mereka bagaikan suatu umat yang berada dalam kegelapan besar yang melihat cahaya yang memancar dengan tiba-tiba hingga mereka mencapai siang hari. Akan tetapi mereka belum merasa puas dengan pertemuan yang singkat ini. Mereka masih ingin mendengar lebih jauh, dan supaya sahabat-sahabat mereka juga mendengarkan Guru ajaib itu. Mereka mengundang Dia ke kota mereka serta memohon ke-pada-Nya supaya tinggal dengan mereka. Dua hari lamanya Ia tinggal di Samaria, dan banyak lagi yang percaya pada-Nya. [KSZ1 194.3]
Orang Farisi memandang hina kesederhanaan Yesus. Mereka menga-baikan segala mukjizat-Nya, dan meminta suatu tanda bahwa Ia adalah Anak Allah. Tetapi orang Samaria itu tidak meminta sesuatu tanda apa pun, dan Yesus tidak mengadakan mukjizat di antara mereka, kecuali da-lam menyatakan rahasia hidupnya kepada wanita di sumur itu. Namun banyak orang yang menerima Dia. Dalam kegembiraan mereka yang baru itu berkatalah mereka kepada wanita itu, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.” [KSZ1 195.1]
Orang Samaria percaya bahwa Mesias akan datang sebagai Penebus, bukan hanya bagi bangsa Yahudi, tetapi juga bagi dunia. Roh Kudus de-ngan perantaraan Musa telah menubuatkan Dia sebagai seorang nabi yang datang dari Allah. Dengan perantaraan Yakub telah dikatakan bahwa kepada-Nya segala bangsa akan menurut; dan dengan perantaraan Abraham, bahwa dalam Dialah segala bangsa di dunia ini diberkati. Di atas ucapan Alkitab inilah bangsa Samaria itu mengalaskan iman mereka pada Mesias. Bangsa Yahudi telah salah menafsirkan nabi-nabi yang be-lakangan, dengan menganggap bahwa kemuliaan kedatangan Kristus yang kedua kali akan dialami pada kedatangan-Nya yang pertama kali. Itulah sebabnya orang Samaria mengabaikan semua tulisan suci kecuali yang diberikan dengan perantaraan Musa. Tetapi ketika Juruselamat menghapus semua tafsiran yang salah ini, banyak yang menerima nubuatan-nubuatan itu dan juga perkataan Kristus sendiri mengenai ke-rajaan Allah. Yesus sudah mulai merubuhkan tembok pemisah antara orang Yahudi dan orang kafir, dan memasyhurkan kabar keselamatan kepada dunia. Walaupun Ia seorang Yahudi, Ia bergaul bebas dengan orang Samaria, meniadakan adat istiadat Keparisian bangsa-Nya. Di tengah prasangka mereka Ia menerima sikap ramah tamah dari bangsa yang dibenci itu. Ia tidur di rumah mereka, makan sehidangan dengan mereka, ikut menikmati makanan yang disediakan dan dihidangkan oleh tangan mereka, mengajar di jalan raya mereka, serta memperlakukan mereka dengan sangat murah hati dan sopan santun. [KSZ1 195.2]
Dalam Bait Suci di Yerusalem sebuah tembok yang rendah memisahkan halaman sebelah luar dari segala bagian lain dari bangunan yang suci itu. Pada tembok ini ada tulisan dalam bermacam-macam bahasa, yang mengatakan bahwa tidak seorang pun kecuali orang Yahudi diizinkan melalui batas ini. Sekiranya seorang kafir dengan ceroboh berani masuk ke dalam ruangan sebelah dalam itu, ia sudah menajiskan Bait Suci itu, dan sudah tentu ia akan membayar hukuman dengan nyawanya sendiri. Tetapi Yesus pencipta Bait Suci dan segala upacaranya itu, menarik orang kafir itu kepada-Nya dengan ikatan simpati manusia, sementara rahmat Ilahi-Nya membawakan kepada mereka keselamatan yang ditolak oleh orang Yahudi. [KSZ1 196.1]
Yesus tinggal di Samaria dengan maksud untuk mendatangkan berkat kepada murid-murid-Nya, yang masih di bawah pengaruh kefanatikan Yahudi. Mereka merasa bahwa kesetiaan kepada bangsa mereka sendiri meminta supaya mereka memelihara permusuhan terhadap orang Samaria. Mereka heran melihat kelakuan Yesus. Mereka tidak dapat menolak untuk mengikuti teladan yang diberikan-Nya itu, dan selama dua hari di Samaria, kesetiaan kepada-Nya menguasai segenap prasangka mereka; namun dalam hati mereka tidak merasa senang. Sangat lambat bagi mereka untuk memahami bahwa penghinaan dan kebencian mereka harus memberi tempat bagi belas kasihan dan simpati. Tetapi setelah Tuhan naik ke surga, pelajaran-pelajaran yang diberikan-Nya itu datang kepada mereka dengan suatu arti yang baru. Setelah kecurahan Roh Kudus, mereka pun terkenanglah akan pandangan Juruselamat, perkataan-Nya, penghormatan dan kelembutan pembawaan-Nya terhadap orang-orang asing yang terhina itu. Waktu Petrus pergi memasyhurkan Injil di Samaria, ia membawa roh seperti itu dalam pekerjaannya sendiri. Ketika Yohanes dipanggil ke Efesus dan Smirna, terkenanglah ia akan pengalaman di Sikhem itu, lalu ia dipenuhi dengan perasaan syukur kepada Guru Ilahi, yang oleh melihat lebih dahulu segala kesukaran yang harus mereka hadapi, telah memberikan kepada mereka pertolongan dalam teladan-Nya sendiri. [KSZ1 196.2]
Juruselamat masih menjalankan pekerjaan yang sama seperti ketika Ia menawarkan air hidup kepada wanita Samaria itu. Orang-orang yang menyebut dirinya pengikut-pengikut-Nya, boleh jadi menghina serta menghindar orang-orang terbuang itu; tetapi tiada keadaan kelahiran atau kebangsaan, tiada keadaan hidup, yang dapat menjauhkan kasih-Nya dari anak-anak manusia. Kepada setiap jiwa, meskipun berdosa, Yesus berkata, kalau engkau sudah meminta kepada-Ku, tentu saja Aku telah memberikan air hidup kepadamu. [KSZ1 197.1]