Hari 1: Pasal 3 - “SETELAH GENAP WAKTUNYA”
12 Juli 2026 · Hari 1

Hari 1: Pasal 3 - “SETELAH GENAP WAKTUNYA”

Halaman 28-29 | Pasal 3, Paragraf 1-6 | KSZ1 28.1-KSZ1 29.3

Ayat Inti

Galatia 4:4-5

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Bacaan minggu ini mengingatkan bahwa rencana keselamatan berjalan dalam waktu Allah. Kelahiran Kristus bukan peristiwa kecil, melainkan kabar baik bagi dunia yang membutuhkan pengharapan.

Doa

Bapa, ajar kami mempercayai waktu-Mu dan membagikan kabar keselamatan dengan sukacita. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 28.1 “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya .. untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” Gal. 4:4.

KSZ1 28.2 Kedatangan Juruselamat telah dinubuatkan di Eden. Ketika Adam dan Hawa pertama kali mendengar janji itu, mereka sangat mengharapkan kegenapannya yang segera. Mereka menyambut anak sulung mereka dengan segala sukacita, mengharap bahwa mungkin dialah Pelepas itu. Akan tetapi kegenapan janji itu bertangguh. Orang-orang yang mulamula menerimanya, meninggal dunia dengan tidak melihat kegenapan janji tersebut. Sejak zaman Henokh janji itu diulang-ulangi dengan perantaraan nenek moyang dan nabi-nabi, yang selalu menghidupkan harapan akan kedatangan-Nya, namun Ia tidak kunjung datang. Nubuatan Daniel menyatakan waktu kedatangan-Nya, tetapi tidak semua orang menafsirkan kabar itu dengan benar. Abad demi abad lalu dan lenyap; suara nabi-nabi berhenti. Tangan penindas menekan Israel dengan berat, dan banyak orang yang sudah bersedia mengatakan, “Sudah lama berselang, tetapi satu penglihatan pun tak jadi.” Yeh. 12:22.

KSZ1 28.3 Akan tetapi seperti bintang-bintang di angkasa luas lepas menuruti peredarannya masing-masing, demikianlah maksud-maksud Allah tidak pernah mengenal gesa atau kelambatan. Dengan lambang-lambang kegelapan besar dan dapur api yang penuh asap, Allah telah menyatakan kepada Abraham perhambaan Israel di Mesir, dan telah menegaskan bahwa masa tinggal mereka harus penuh empat ratus tahun lamanya. “Dan sesudah itu,” Ia berfirman, “mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak.” Kej. 15:14. Terhadap Firman tersebut, segenap kuasa kerajaan Firaun yang megah itu berjuang dengan sia-sia. Pada “hari itu juga” sebagaimana yang telah ditentukan oleh janji Ilahi, “keluarlah segala pasukan Tuhan dari tanah Mesir.” Kel. 12:41. Demikianlah dalam musyawarah di surga jam kedatangan Kristus sudah diten-tukan. Manakala jarum jam besar itu menunjuk kepada waktu tersebut, maka Yesus pun lahir di Betlehem.

KSZ1 29.1 “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya.” Allah telah menuntun segala gerakan bangsa-bangsa dan dorongan hati serta pengarah umat manusia, hingga dunia sedia menyambut kedatangan Pelepas itu. Bangsa-bangsa bersatu di bawah satu pemerintahan. Satu bahasa umum digunakan, yang di mana-mana terkenal sebagai bahasa kesusastraan. Dari semua negeri orang-orang Yahudi yang tercerai-berai datang berhimpun di Yerusalem untuk menghadiri pesta-pesta tahunan. Ketika mereka pulang ke tempat mereka masing-masing, mereka dapat menyiarkan ke seluruh dunia berita tentang kedatangan Mesias.

KSZ1 29.2 Pada waktu ini sistem agama kekafiran sudah kehilangan pegangannya di antara orang banyak. Orang sudah bosan dengan pertunjukan-pertunjukan ajaib dan dongeng-dongeng. Mereka merindukan suatu agama yang dapat memuaskan hati. Sementara terang kebenaran nampak sudah seolah-olah hilang lenyap dari antara manusia, masih ada jiwa-jiwa yang mencari terang, dan yang penuh kebingungan dan dukacita. Mereka merasa haus akan pengetahuan tentang Allah yang hidup, serta suatu jaminan hidup di seberang kubur.

KSZ1 29.3 Karena bangsa Yahudi telah meninggalkan Allah, iman sudah makin pudar, dan pengharapan telah hampir berhenti menerangi masa depan. Perkataan nabi-nabi tidak dimengerti. Bagi khalayak ramai, kematian adalah suatu rahasia yang mengerikan; di seberang kematian itu tidak ada kepastian, hanya kegelapan belaka. Bukan saja ratap tangis ibu-ibu Betlehem, tetapi juga jeritan hati manusia umumnya, yang telah menjadi beban kepada seorang nabi berabad-abad yang lalu, suara yang terdengar di Rama, “tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.” Mat. 2:18 “Di negeri yang dinaungi maut,” manusia duduk dengan tiada terhiburkan. Dengan mata yang rindu mereka menanti-nant ikan kedatangan Pelepas itu, bilamana kegelapan akan dilenyapkan, dan rahasia masa depan kelak dijelaskan.

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

12 Juli 2026 | Hari 1
Hari 1: Pasal 3 - “SETELAH GENAP WAKTUNYA”

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 3 - “SETELAH GENAP WAKTUNYA”
Halaman 28-29 | Pasal 3, Paragraf 1-6 | KSZ1 28.1-KSZ1 29.3

Ayat Inti:
Galatia 4:4-5
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Bacaan minggu ini mengingatkan bahwa rencana keselamatan berjalan dalam waktu Allah. Kelahiran Kristus bukan peristiwa kecil, melainkan kabar baik bagi dunia yang membutuhkan pengharapan.

Baca:
https://onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-2-hari-1-2026-07-12

Teks Lengkap:

“Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya .. untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” Gal. 4:4. [KSZ1 28.1]

Kedatangan Juruselamat telah dinubuatkan di Eden. Ketika Adam dan Hawa pertama kali mendengar janji itu, mereka sangat mengharapkan kegenapannya yang segera. Mereka menyambut anak sulung mereka dengan segala sukacita, mengharap bahwa mungkin dialah Pelepas itu. Akan tetapi kegenapan janji itu bertangguh. Orang-orang yang mulamula menerimanya, meninggal dunia dengan tidak melihat kegenapan janji tersebut. Sejak zaman Henokh janji itu diulang-ulangi dengan perantaraan nenek moyang dan nabi-nabi, yang selalu menghidupkan harapan akan kedatangan-Nya, namun Ia tidak kunjung datang. Nubuatan Daniel menyatakan waktu kedatangan-Nya, tetapi tidak semua orang menafsirkan kabar itu dengan benar. Abad demi abad lalu dan lenyap; suara nabi-nabi berhenti. Tangan penindas menekan Israel dengan berat, dan banyak orang yang sudah bersedia mengatakan, “Sudah lama berselang, tetapi satu penglihatan pun tak jadi.” Yeh. 12:22. [KSZ1 28.2]

Akan tetapi seperti bintang-bintang di angkasa luas lepas menuruti peredarannya masing-masing, demikianlah maksud-maksud Allah tidak pernah mengenal gesa atau kelambatan. Dengan lambang-lambang kegelapan besar dan dapur api yang penuh asap, Allah telah menyatakan kepada Abraham perhambaan Israel di Mesir, dan telah menegaskan bahwa masa tinggal mereka harus penuh empat ratus tahun lamanya. “Dan sesudah itu,” Ia berfirman, “mereka akan keluar dengan membawa harta benda yang banyak.” Kej. 15:14. Terhadap Firman tersebut, segenap kuasa kerajaan Firaun yang megah itu berjuang dengan sia-sia. Pada “hari itu juga” sebagaimana yang telah ditentukan oleh janji Ilahi, “keluarlah segala pasukan Tuhan dari tanah Mesir.” Kel. 12:41. Demikianlah dalam musyawarah di surga jam kedatangan Kristus sudah diten-tukan. Manakala jarum jam besar itu menunjuk kepada waktu tersebut, maka Yesus pun lahir di Betlehem. [KSZ1 28.3]

“Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya.” Allah telah menuntun segala gerakan bangsa-bangsa dan dorongan hati serta pengarah umat manusia, hingga dunia sedia menyambut kedatangan Pelepas itu. Bangsa-bangsa bersatu di bawah satu pemerintahan. Satu bahasa umum digunakan, yang di mana-mana terkenal sebagai bahasa kesusastraan. Dari semua negeri orang-orang Yahudi yang tercerai-berai datang berhimpun di Yerusalem untuk menghadiri pesta-pesta tahunan. Ketika mereka pulang ke tempat mereka masing-masing, mereka dapat menyiarkan ke seluruh dunia berita tentang kedatangan Mesias. [KSZ1 29.1]

Pada waktu ini sistem agama kekafiran sudah kehilangan pegangannya di antara orang banyak. Orang sudah bosan dengan pertunjukan-pertunjukan ajaib dan dongeng-dongeng. Mereka merindukan suatu agama yang dapat memuaskan hati. Sementara terang kebenaran nampak sudah seolah-olah hilang lenyap dari antara manusia, masih ada jiwa-jiwa yang mencari terang, dan yang penuh kebingungan dan dukacita. Mereka merasa haus akan pengetahuan tentang Allah yang hidup, serta suatu jaminan hidup di seberang kubur. [KSZ1 29.2]

Karena bangsa Yahudi telah meninggalkan Allah, iman sudah makin pudar, dan pengharapan telah hampir berhenti menerangi masa depan. Perkataan nabi-nabi tidak dimengerti. Bagi khalayak ramai, kematian adalah suatu rahasia yang mengerikan; di seberang kematian itu tidak ada kepastian, hanya kegelapan belaka. Bukan saja ratap tangis ibu-ibu Betlehem, tetapi juga jeritan hati manusia umumnya, yang telah menjadi beban kepada seorang nabi berabad-abad yang lalu, suara yang terdengar di Rama, “tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.” Mat. 2:18 “Di negeri yang dinaungi maut,” manusia duduk dengan tiada terhiburkan. Dengan mata yang rindu mereka menanti-nant ikan kedatangan Pelepas itu, bilamana kegelapan akan dilenyapkan, dan rahasia masa depan kelak dijelaskan. [KSZ1 29.3]