Hari 1: Pasal 27 - “TUHAN DAPAT MENTAHIRKAN AKU”
13 Desember 2026 · Hari 1

Hari 1: Pasal 27 - “TUHAN DAPAT MENTAHIRKAN AKU”

Halaman 273-275 | Pasal 27, Paragraf 1-6 | KSZ1 273.1-KSZ1 275.2

Ayat Inti

Matius 8:2-3

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu 24 membaca Bab 27: Tuhan Dapat Mentahirkan Aku. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Doa

Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 273.1 DARI SEGALA penyakit yang dikenal di dunia Timur ini, penyakit kusta adalah suatu penyakit yang paling ditakuti. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan mudah berjangkit, serta membawa celaka pada si penderita. Di kalangan bangsa Yahudi, penyakit ini dianggap sebagai hukuman bagi dosa, itulah sebabnya disebut “pukulan,” “jari Allah.” Ka-rena akarnya begitu dalam dan tidak dapat dibasmi serta membawa mati, maka penyakit ini dianggap sebagai lambang dosa. Oleh undang-undang agama, kusta itu dianggap najis. Mereka dianggap sebagai orang yang telah mati, disingkirkan dari masyarakat. Apa saja yang dijamahnya adalah najis. Udara dicemari oleh napas mereka. Seorang yang telah disangka mendapat penyakit ini harus menyatakan dirinya kepada imam-imam yang harus memeriksa dan menentukan keadaannya. Jika didapati benar ia berpenyakit kusta, maka ia harus disingkirkan dari keluarganya, putus hubungan dari himpunan bani Israel serta diharuskan bergaul hanya de-ngan mereka yang menderita penyakit yang sama. Undang-undang sangat keras dalam hal ini. Hingga raja-raja dan penghulu-penghulu pun tidak terkecuali. Seorang raja yang diserang penyakit yang hebat ini harus menyerahkan tahtanya dan lari meninggalkan masyarakatnya.

KSZ1 274.1 Jauh dari handai taulan dan kaum kerabatnya, orang kusta ini harus menanggung kutuk penyakitnya. Ia diharuskan mengumumkan penyakitnya sendiri, mengoyakkan jubahnya dan membunyikan suatu tanda amaran mengamarkan agar segala orang menjauhkan diri dari tubuhnya yang berbahaya itu! Teriakannya ialah: “Najis! Najis!” yang diserukan-nya dengan nada kesedihan dari tempat pembuangan yang terpencil lagi sepi itu, adalah sebagai suatu tanda yang didengar dengan perasaan takut dan jijik.

KSZ1 274.2 Di daerah tempat Yesus bekerja banyak orang yang menderita penyakit ini, dan kabar tentang pekerjaan-Nya sampai kepada telinga mereka itu, membawa suatu kabar yang memberi sinar pengharapan. Tetapi sejak zaman Nabi Elisa, belum pernah diketahui seorang pun yang mendapat penyakit ini dapat disembuhkan. Mereka tidak berani mengharap pada Yesus untuk berbuat bagi mereka itu apa yang Dia belum pernah lakukan bagi siapa pun. Tetapi di antara mereka itu ada seorang yang di dalam hatinya telah menyingsing fajar imannya. Orang ini tidak mengetahui bagaimana caranya menjumpai Yesus. Setelah diputuskan hubungannya dari sesama manusia, bagaimana dapat ia membawa dirinya kepada Tabib Besar itu? Maka ia telah bertanya-tanya jika Kristus mau menyembuhkan dia. Apakah Dia akan menundukkan diri untuk memperhatikan seorang yang percaya bahwa penderitaannya adalah sebagai hukuman dari Allah? Apakah Dia bukan sebagai orang Farisi, atau para tabib yang mengutuk dia dan mengamarkan dia agar melarikan diri jauh dari masyarakat? Ia memikirkan segala perkara yang ia dengar dari hal Yesus. Tidak seorang pun yang mencari pertolongannya telah ditolak. Orang yang malang ini mengambil keputusan untuk mencari Juruselamat. Dalam perasaannya walaupun kota itu tertutup, mungkin ia boleh mendapat jalan masuk melalui jalan kecil di lereng-lereng gunung atau menemui Yesus sedang mengajar di luar kota. Kesulitan yang dihadapinya sangatlah besar, tetapi inilah satu-satunya pengharapannya.

KSZ1 274.3 Orang kusta ini dibawa kepada Juruselamat. Yesus sedang mengajar di tepi danau dan orang banyak sedang mengerumuni Dia. Dengan berdiri dari jauh, orang kusta ini dapat mendengarkan beberapa perkataan yang keluar dari bibir Juruselamat. Ia melihat Dia meletakkan tanganNya di atas orang sakit. Ia melihat orang timpang, orang buta, orang tepok dan mereka yang sedang menderita berbagai-bagai penyakit men-dapat kesembuhan, sambil memuji Allah karena kelepasan mereka. Imannya dikuatkan! Ia datang lebih mendekati orang banyak itu. Larangan terhadap dirinya, keselamatan orang banyak, dan ketakutan orang banyak terhadap dirinya dilupakan. Ia hanya memikirkan akan berkat ke-sembuhannya.

KSZ1 275.1 Ia adalah suatu tontonan yang najis. Penyakitnya sangat ditakuti, dan tubuhnya yang sedang menjadi busuk itu sangatlah ngeri dipandang mata. Apabila orang banyak melihat dia, semuanya pun berlari karena takut. Mereka berdesak-desakkan satu dengan yang lain karena ingin menghin-dar agar tidak menyentuh dia. Ada pula yang berusaha mencegah dia menghampiri Yesus, tetapi semuanya itu sia-sia adanya. Ia tidak melihat atau mendengar mereka. Ucapan hinaan dan kutukan tidak dihiraukannya lagi. Ia hanya melihat Anak Allah. Ia hanya mendengar suara yang memberi hidup baru kepada yang hendak mati. Ia mendesak maju menuju pada Yesus, lalu merebahkan dirinya pada kaki-Nya sambil berseru: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan gku”

KSZ1 275.2 Yesus menjawab: “Aku mau, jadilah engkau tahir!” dan mengulurkan tangan-Nya atas orang yang berpenyakit kusta itu. Matius 8:3.

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

13 Desember 2026 | Hari 1
Hari 1: Pasal 27 - “TUHAN DAPAT MENTAHIRKAN AKU”

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 27 - “TUHAN DAPAT MENTAHIRKAN AKU”
Halaman 273-275 | Pasal 27, Paragraf 1-6 | KSZ1 273.1-KSZ1 275.2

Ayat Inti:
Matius 8:2-3
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu 24 membaca Bab 27: Tuhan Dapat Mentahirkan Aku. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Baca:
https://onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-24-hari-1-2026-12-13

Teks Lengkap:

DARI SEGALA penyakit yang dikenal di dunia Timur ini, penyakit kusta adalah suatu penyakit yang paling ditakuti. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan dan mudah berjangkit, serta membawa celaka pada si penderita. Di kalangan bangsa Yahudi, penyakit ini dianggap sebagai hukuman bagi dosa, itulah sebabnya disebut “pukulan,” “jari Allah.” Ka-rena akarnya begitu dalam dan tidak dapat dibasmi serta membawa mati, maka penyakit ini dianggap sebagai lambang dosa. Oleh undang-undang agama, kusta itu dianggap najis. Mereka dianggap sebagai orang yang telah mati, disingkirkan dari masyarakat. Apa saja yang dijamahnya adalah najis. Udara dicemari oleh napas mereka. Seorang yang telah disangka mendapat penyakit ini harus menyatakan dirinya kepada imam-imam yang harus memeriksa dan menentukan keadaannya. Jika didapati benar ia berpenyakit kusta, maka ia harus disingkirkan dari keluarganya, putus hubungan dari himpunan bani Israel serta diharuskan bergaul hanya de-ngan mereka yang menderita penyakit yang sama. Undang-undang sangat keras dalam hal ini. Hingga raja-raja dan penghulu-penghulu pun tidak terkecuali. Seorang raja yang diserang penyakit yang hebat ini harus menyerahkan tahtanya dan lari meninggalkan masyarakatnya. [KSZ1 273.1]

Jauh dari handai taulan dan kaum kerabatnya, orang kusta ini harus menanggung kutuk penyakitnya. Ia diharuskan mengumumkan penyakitnya sendiri, mengoyakkan jubahnya dan membunyikan suatu tanda amaran mengamarkan agar segala orang menjauhkan diri dari tubuhnya yang berbahaya itu! Teriakannya ialah: “Najis! Najis!” yang diserukan-nya dengan nada kesedihan dari tempat pembuangan yang terpencil lagi sepi itu, adalah sebagai suatu tanda yang didengar dengan perasaan takut dan jijik. [KSZ1 274.1]

Di daerah tempat Yesus bekerja banyak orang yang menderita penyakit ini, dan kabar tentang pekerjaan-Nya sampai kepada telinga mereka itu, membawa suatu kabar yang memberi sinar pengharapan. Tetapi sejak zaman Nabi Elisa, belum pernah diketahui seorang pun yang mendapat penyakit ini dapat disembuhkan. Mereka tidak berani mengharap pada Yesus untuk berbuat bagi mereka itu apa yang Dia belum pernah lakukan bagi siapa pun. Tetapi di antara mereka itu ada seorang yang di dalam hatinya telah menyingsing fajar imannya. Orang ini tidak mengetahui bagaimana caranya menjumpai Yesus. Setelah diputuskan hubungannya dari sesama manusia, bagaimana dapat ia membawa dirinya kepada Tabib Besar itu? Maka ia telah bertanya-tanya jika Kristus mau menyembuhkan dia. Apakah Dia akan menundukkan diri untuk memperhatikan seorang yang percaya bahwa penderitaannya adalah sebagai hukuman dari Allah? Apakah Dia bukan sebagai orang Farisi, atau para tabib yang mengutuk dia dan mengamarkan dia agar melarikan diri jauh dari masyarakat? Ia memikirkan segala perkara yang ia dengar dari hal Yesus. Tidak seorang pun yang mencari pertolongannya telah ditolak. Orang yang malang ini mengambil keputusan untuk mencari Juruselamat. Dalam perasaannya walaupun kota itu tertutup, mungkin ia boleh mendapat jalan masuk melalui jalan kecil di lereng-lereng gunung atau menemui Yesus sedang mengajar di luar kota. Kesulitan yang dihadapinya sangatlah besar, tetapi inilah satu-satunya pengharapannya. [KSZ1 274.2]

Orang kusta ini dibawa kepada Juruselamat. Yesus sedang mengajar di tepi danau dan orang banyak sedang mengerumuni Dia. Dengan berdiri dari jauh, orang kusta ini dapat mendengarkan beberapa perkataan yang keluar dari bibir Juruselamat. Ia melihat Dia meletakkan tanganNya di atas orang sakit. Ia melihat orang timpang, orang buta, orang tepok dan mereka yang sedang menderita berbagai-bagai penyakit men-dapat kesembuhan, sambil memuji Allah karena kelepasan mereka. Imannya dikuatkan! Ia datang lebih mendekati orang banyak itu. Larangan terhadap dirinya, keselamatan orang banyak, dan ketakutan orang banyak terhadap dirinya dilupakan. Ia hanya memikirkan akan berkat ke-sembuhannya. [KSZ1 274.3]

Ia adalah suatu tontonan yang najis. Penyakitnya sangat ditakuti, dan tubuhnya yang sedang menjadi busuk itu sangatlah ngeri dipandang mata. Apabila orang banyak melihat dia, semuanya pun berlari karena takut. Mereka berdesak-desakkan satu dengan yang lain karena ingin menghin-dar agar tidak menyentuh dia. Ada pula yang berusaha mencegah dia menghampiri Yesus, tetapi semuanya itu sia-sia adanya. Ia tidak melihat atau mendengar mereka. Ucapan hinaan dan kutukan tidak dihiraukannya lagi. Ia hanya melihat Anak Allah. Ia hanya mendengar suara yang memberi hidup baru kepada yang hendak mati. Ia mendesak maju menuju pada Yesus, lalu merebahkan dirinya pada kaki-Nya sambil berseru: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan gku” [KSZ1 275.1]

Yesus menjawab: “Aku mau, jadilah engkau tahir!” dan mengulurkan tangan-Nya atas orang yang berpenyakit kusta itu. Matius 8:3. [KSZ1 275.2]