14 Januari 2027 · Hari 5
Hari 5: Pasal 31 - KHOTBAH DI ATAS BUKIT
Halaman 329-331 | Pasal 31, Paragraf 36-43 | KSZ1 329.1-KSZ1 331.2
Ayat Inti
Matius 5:3
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran
Minggu 28 membaca Bab 31: Khotbah di Atas Bukit. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Doa
Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.
Teks Lengkap
KSZ1 329.1 Penipuan yang terbesar dari pada pikiran manusia pada zaman Kristus ialah hanya oleh menyetujui kebenaran yang mereka anggap sebagai ke-benaran. Di dalam semua pengalaman umat manusia satu pengetahuan teoritis saja tidak cukup untuk menyelamatkan jiwa. Itu tidak mengeluar-kan buah-buah kebenaran. Satu perhatian yang disertai perasaan cemburu terhadap apa yang disebut kebenaran agama sering menyertai kebencian atas kebenaran yang sejati seperti yang dinyatakan di dalam kehidupan. Pasal-pasal yang tergelap dalam sejarah dibebani dengan catatan perbuatan-perbuatan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang bera-gama yang sangat fanatik. Orang Farisi mengaku bahwa mereka adalah anak-anak Abraham, dan membanggakan petunjuk-petunjuk Allah yang ada pada mereka: meski pun demikian keuntungan ini tidak melindungi mereka daripada mementingkan diri sendiri, permusuhan, loba, dan kemunafikan yang hina. Mereka menganggap bahwa merekalah yang paling beragama di dunia, tetapi apa yang mereka sebut berpegang pada agama membawa mereka menyalibkan Tuhan yang mulia itu.
KSZ1 329.2 Bahaya yang sama masih tetap ada. Banyak orang yang hanya meng-ambil nama Kristen saja, hanya karena mereka setuju kepada rukun agama tertentu saja. Tetapi mereka tidak mempraktikkan kebenaran itu di dalam kehidupan. Mereka belum percaya dan mencintainya, oleh karena itu mereka belum menerima kuasa dan kemurahan yang datang melalui penyucian oleh kebenaran. Manusia dapat saja mengaku percaya akan kebenaran; tetapi jika hal itu tidak menjadikan mereka tulus, manis budi, sabar, menahan nafsu, memikirkan hal semawi, itu akan menjadi kutuk bagi yang mengaku memilikinya, dan melalui pengaruh mereka itulah mendatangkan kutuk kepada dunia ini.
KSZ1 329.3 Kebenaran yang diajarkan oleh Kristus adalah kecocokan hati dan ke-hidupan untuk menyatakan kehendak Allah. Orang berdosa dapat menjadi benar hanya oleh percaya kepada Allah dan memelihara hubungan yang amat penting dengan Dia. Maka kesalehan yang sejati akan meng-angkat pikiran dan meninggikan taraf hidup. Jadi bentuk agama secara lahiriah sepadan dengan kesucian hidup Kekristenan. Dengan demikian upacara-upacara yang dituntut dalam melayani Allah bukanlah upacara yang tidak berfaedah, seperti yang dibuat oleh orang-orang Farisi.
KSZ1 330.1 Yesus mengambil hukum itu secara terpisah, dan menerangkan dalam dan lebar tuntutannya. Gantinya menghapuskan satu iota dari kekua-saannya, Ia menunjukkan betapa luas daya cakup prinsip-prinsip itu. dan menunjukkan kesalahan orang Yahudi dalam penurutan mereka secara lahir. Dikatakan-Nya bahwa oleh pikiran jahat atau pandangan hawa naf-su, hukum Allah telah dilanggar. Barangsiapa yang menggabungkan diri kepada perbuatan yang tidak adil yang kecil berarti melanggar hukum dan merendahkan akhlaknya sendiri. Pembunuhan yang mula-mula terjadi dalam pikiran. Barangsiapa yang memberikan tempat kebencian di dalam hatinya ialah meletakkan kakinya pada jalan pembunuhan, dan persembahannya ialah kebencian kepada Allah.
KSZ1 330.2 Orang-orang Yahudi menanamkan roh dendam. Di dalam kebencian mereka kepada orang Roma mereka mengeluarkan ucapan yang mencela, dan berkenan kepada si jahat dengan jalan menyatakan yang bertalian dengan sifatnya itu. Jadi mereka telah mendidik diri mereka sendiri mela-kukan perbuatan yang mengerikan yang menuntun mereka ke arah itu. Di dalam hidup keagamaan orang-orang Farisi tidak ada satu pun pujian kesalehan kepada orang kafir. Yesus minta supaya mereka jangan menipu diri sendiri dengan pikiran bahwa mereka dapat membangkitkan di dalam hati perlawanan terhadap penindas mereka, menghasratkan saat membalas dendam atas kesalahan mereka itu.
KSZ1 330.3 Memang betul bahwa ada kemarahan yang boleh dikatakan benar, sekalipun pada pengikut-pengikut Kristus. Apabila mereka melihat bahwa Allah dihina, dan pelayanan-Nya diperbantahkan, apabila mereka melihat orang yang tidak bersalah ditindas, amarah yang patut timbul dalam jiwa. Amarah yang demikian, terbit dari moral yang halus, bukanlah dosa. Tetapi mereka yang menimbulkan perasaan yang membangkitbangkitkan amarah atau dendam ialah membukakan hati kepaaa Setan. Kepahitan dan kebencian haruslah dibuang dari jiwa jika kiia mau selaras dengan surga.
KSZ1 331.1 Lebih jauh Yesus mengatakan hal seperti ini. Kata-Nya: “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” Banyak orang yang sungguh-sungguh di dalam perbaktian agama, sementara di antara mereka dan saudara-saudara mereka banyak perselisihan yang perlu diperdamaikan. Allah menuntut agar mereka melakukan dengan segenap kuasa untuk memulihkan persesuaian. Kecuali mereka berbuat perkara ini, Ia tidak dapat menerima pelayanan mereka itu. Tugas-tugas orang Kristen di dalam hal ini telah ditunjukkan dengan jelas.
KSZ1 331.2 Allah mencurahkan berkat-berkat-Nya kepada semua orang. “Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” “Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Lukas 6:35. Ia mengundang kita supaya serupa dengan Dia. “Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu,” kata Yesus; “berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu,... karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.” Inilah prinsip-prinsip dari hukum, dan mereka itulah mata air hidup.
ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL
14 Januari 2027 | Hari 5
Hari 5: Pasal 31 - KHOTBAH DI ATAS BUKIT
Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 31 - KHOTBAH DI ATAS BUKIT
Halaman 329-331 | Pasal 31, Paragraf 36-43 | KSZ1 329.1-KSZ1 331.2
Ayat Inti:
Matius 5:3
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.
Pelajaran:
Minggu 28 membaca Bab 31: Khotbah di Atas Bukit. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.
Baca:
https://onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-28-hari-5-2027-01-14
Teks Lengkap:
Penipuan yang terbesar dari pada pikiran manusia pada zaman Kristus ialah hanya oleh menyetujui kebenaran yang mereka anggap sebagai ke-benaran. Di dalam semua pengalaman umat manusia satu pengetahuan teoritis saja tidak cukup untuk menyelamatkan jiwa. Itu tidak mengeluar-kan buah-buah kebenaran. Satu perhatian yang disertai perasaan cemburu terhadap apa yang disebut kebenaran agama sering menyertai kebencian atas kebenaran yang sejati seperti yang dinyatakan di dalam kehidupan. Pasal-pasal yang tergelap dalam sejarah dibebani dengan catatan perbuatan-perbuatan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang bera-gama yang sangat fanatik. Orang Farisi mengaku bahwa mereka adalah anak-anak Abraham, dan membanggakan petunjuk-petunjuk Allah yang ada pada mereka: meski pun demikian keuntungan ini tidak melindungi mereka daripada mementingkan diri sendiri, permusuhan, loba, dan kemunafikan yang hina. Mereka menganggap bahwa merekalah yang paling beragama di dunia, tetapi apa yang mereka sebut berpegang pada agama membawa mereka menyalibkan Tuhan yang mulia itu. [KSZ1 329.1]
Bahaya yang sama masih tetap ada. Banyak orang yang hanya meng-ambil nama Kristen saja, hanya karena mereka setuju kepada rukun agama tertentu saja. Tetapi mereka tidak mempraktikkan kebenaran itu di dalam kehidupan. Mereka belum percaya dan mencintainya, oleh karena itu mereka belum menerima kuasa dan kemurahan yang datang melalui penyucian oleh kebenaran. Manusia dapat saja mengaku percaya akan kebenaran; tetapi jika hal itu tidak menjadikan mereka tulus, manis budi, sabar, menahan nafsu, memikirkan hal semawi, itu akan menjadi kutuk bagi yang mengaku memilikinya, dan melalui pengaruh mereka itulah mendatangkan kutuk kepada dunia ini. [KSZ1 329.2]
Kebenaran yang diajarkan oleh Kristus adalah kecocokan hati dan ke-hidupan untuk menyatakan kehendak Allah. Orang berdosa dapat menjadi benar hanya oleh percaya kepada Allah dan memelihara hubungan yang amat penting dengan Dia. Maka kesalehan yang sejati akan meng-angkat pikiran dan meninggikan taraf hidup. Jadi bentuk agama secara lahiriah sepadan dengan kesucian hidup Kekristenan. Dengan demikian upacara-upacara yang dituntut dalam melayani Allah bukanlah upacara yang tidak berfaedah, seperti yang dibuat oleh orang-orang Farisi. [KSZ1 329.3]
Yesus mengambil hukum itu secara terpisah, dan menerangkan dalam dan lebar tuntutannya. Gantinya menghapuskan satu iota dari kekua-saannya, Ia menunjukkan betapa luas daya cakup prinsip-prinsip itu. dan menunjukkan kesalahan orang Yahudi dalam penurutan mereka secara lahir. Dikatakan-Nya bahwa oleh pikiran jahat atau pandangan hawa naf-su, hukum Allah telah dilanggar. Barangsiapa yang menggabungkan diri kepada perbuatan yang tidak adil yang kecil berarti melanggar hukum dan merendahkan akhlaknya sendiri. Pembunuhan yang mula-mula terjadi dalam pikiran. Barangsiapa yang memberikan tempat kebencian di dalam hatinya ialah meletakkan kakinya pada jalan pembunuhan, dan persembahannya ialah kebencian kepada Allah. [KSZ1 330.1]
Orang-orang Yahudi menanamkan roh dendam. Di dalam kebencian mereka kepada orang Roma mereka mengeluarkan ucapan yang mencela, dan berkenan kepada si jahat dengan jalan menyatakan yang bertalian dengan sifatnya itu. Jadi mereka telah mendidik diri mereka sendiri mela-kukan perbuatan yang mengerikan yang menuntun mereka ke arah itu. Di dalam hidup keagamaan orang-orang Farisi tidak ada satu pun pujian kesalehan kepada orang kafir. Yesus minta supaya mereka jangan menipu diri sendiri dengan pikiran bahwa mereka dapat membangkitkan di dalam hati perlawanan terhadap penindas mereka, menghasratkan saat membalas dendam atas kesalahan mereka itu. [KSZ1 330.2]
Memang betul bahwa ada kemarahan yang boleh dikatakan benar, sekalipun pada pengikut-pengikut Kristus. Apabila mereka melihat bahwa Allah dihina, dan pelayanan-Nya diperbantahkan, apabila mereka melihat orang yang tidak bersalah ditindas, amarah yang patut timbul dalam jiwa. Amarah yang demikian, terbit dari moral yang halus, bukanlah dosa. Tetapi mereka yang menimbulkan perasaan yang membangkitbangkitkan amarah atau dendam ialah membukakan hati kepaaa Setan. Kepahitan dan kebencian haruslah dibuang dari jiwa jika kiia mau selaras dengan surga. [KSZ1 330.3]
Lebih jauh Yesus mengatakan hal seperti ini. Kata-Nya: “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” Banyak orang yang sungguh-sungguh di dalam perbaktian agama, sementara di antara mereka dan saudara-saudara mereka banyak perselisihan yang perlu diperdamaikan. Allah menuntut agar mereka melakukan dengan segenap kuasa untuk memulihkan persesuaian. Kecuali mereka berbuat perkara ini, Ia tidak dapat menerima pelayanan mereka itu. Tugas-tugas orang Kristen di dalam hal ini telah ditunjukkan dengan jelas. [KSZ1 331.1]
Allah mencurahkan berkat-berkat-Nya kepada semua orang. “Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” “Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” Lukas 6:35. Ia mengundang kita supaya serupa dengan Dia. “Mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu,” kata Yesus; “berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu,... karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga.” Inilah prinsip-prinsip dari hukum, dan mereka itulah mata air hidup. [KSZ1 331.2]