Hari 4: Pasal 35 - “DIAM, TENANGLAH”
10 Februari 2027 · Hari 4

Hari 4: Pasal 35 - “DIAM, TENANGLAH”

Halaman 362-363 | Pasal 35, Paragraf 16-20 | KSZ1 362.1-KSZ1 363.3

Ayat Inti

Markus 4:39

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu 32 membaca Bab 35: Diam, Tenanglah. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Doa

Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 362.1 Ada pula pelajaran lain bagi kerohanian yang diperoleh di dalam mukjizat menenangkan angin ribut ini. Setiap pengalaman manusia me-nyaksikan kebenaran perkataan Alkitab: ” Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang,... Tiada damai bagi orang-orang fasik itu,’ firman Allahku. “Yesaya 57:20 21. Dosa telah membinasakan kedamaian kita. Apabila diri tidak ditaklukkan, kita tidak akan memperoleh sentosa. Tidak ada kuasa manusia yang dapat menguasai keangkuhan hawa nafsu hati. Kita pun tidak ber-daya sama halnya dengan murid-murid itu untuk meneduhkan gelora ombak. Tetapi Ia yang telah mendiamkan Danau Galilea juga telah mengucapkan perkataan damai bagi setiap jiwa. Bagaimana pun be-sarnya topan, orang-orang yang berpaling kepada Yesus serta berseru: “Tuhan, selamatkan kami,” akan mendapat kelepasan. Kemurahan-Nyalah yang telah memperdamaikan jiwa kepada Allah, menenangkan pe-perangan hawa nafsu manusia, dan di dalam kasih-Nya ati itu tenang. “Dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka.” Mazmur 107.29, 30. Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Di mana ada ke-benaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. Roma 5.1, Yesaya 32:17.

KSZ1 362.2 Waktu subuh Juruselamat dan kawan-kawan-Nya telah tiba di pantai, dan sinar matahari menyentuh permukaan danau dan daratan sebagai ucapan damai. Tetapi tidak lama setelah mereka menjejakkan kaki di pantai mata mereka disambut satu pemandangan yang dahsyat melebihi amukan topan. Dari beberapa tempat persembunyian di antara pekuburan, dua orang gila menyerang mereka seolah-olah hendak membinasakan mereka. Di tubuh mereka tergantunglah bagian rantai yang mereka putuskan untuk melepaskan diri mereka dari tahanan. Tubuh mereka luka-luka dan mencucurkan darah karena mereka telah mengiris-irisnya dengan batu-batu yang tajam. Mata mereka yang jalang tampak melalui rambut yang panjang dan tebal, manusia yang telah dicemarkan oleh Setan yang menguasai mereka, mereka lebih kelihatan seperti binatang buas daripada seperti manusia.

KSZ1 363.1 Murid-murid beserta kawan-kawan mereka berlari ketakutan; tetapi kemudian mereka perhatikan bahwa Yesus tidak bersama-sama dengan mereka, lalu mereka mencari-Nya. Ia berdiri di tempat mereka mening-galkan Dia. Ia yang telah mendiamkan angin ribut, yang telah bertemu dengan Setan dan mengalahkannya, tidak lari dari hadapan setan-setan ini. Apabila orang itu menggertakkan giginya, dan mulutnya berbusa, serta mendekati Dia, Yesus mengangkat tangan yang juga telah menenangkan angin ribut, sehingga orang itu tidak dapat datang mendekat. Mereka berdiri dengan geramnya, tetapi tidak berdaya di hadapan Yesus.

KSZ1 363.2 Dengan kuasa Ia memerintahkan supaya roh-roh jahat itu keluar dari mereka. Perkataan-Nya menembusi kegelapan pikiran orang yang malang itu. Mereka perlahan-lahan insaf bahwa Seorang yang ada di dekat itulah yang dapat menyelamatkan mereka dari siksaan Setan. Mereka tersungkur di kaki Juruselamat lalu menyembah Dia; tetapi waktu bibir mereka hendak dibukakan untuk memohon kemurahan-Nya, Setan berkata melalui mereka, berseru dengan nyaring: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!”

KSZ1 363.3 Lalu Yesus bertanya: “Siapa namamu?” Dan jawabnya ialah: “Namaku Legion karena kami banyak.” Dengan menggunakan orang-orang yang dirundung malang ini sebagai alat komunikasi, mereka memohon agar Yesus jangan mengeluarkan mereka dari negeri itu. Di atas lereng gunung, tidak berapa jauh dari situ ada sekumpulan babi yang sedang makan. Kepada babi inilah Setan-setan memohon agar mereka diizinkan masuk, lalu Yesus membiarkan mereka masuk. Tiba-tiba kumpulan babi-babi itu panik. Babi-babi itu berlari dari lereng gunung yang curam, dan tidak sanggup menahan diri mereka di pantai, terjun ke dalam danau dan binasa.

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

10 Februari 2027 | Hari 4
Hari 4: Pasal 35 - “DIAM, TENANGLAH”

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 35 - “DIAM, TENANGLAH”
Halaman 362-363 | Pasal 35, Paragraf 16-20 | KSZ1 362.1-KSZ1 363.3

Ayat Inti:
Markus 4:39
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu 32 membaca Bab 35: Diam, Tenanglah. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Baca:
https://onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-32-hari-4-2027-02-10

Teks Lengkap:

Ada pula pelajaran lain bagi kerohanian yang diperoleh di dalam mukjizat menenangkan angin ribut ini. Setiap pengalaman manusia me-nyaksikan kebenaran perkataan Alkitab: ” Tetapi orang-orang fasik adalah seperti laut yang berombak-ombak sebab tidak dapat tetap tenang,... Tiada damai bagi orang-orang fasik itu,’ firman Allahku. “Yesaya 57:20 21. Dosa telah membinasakan kedamaian kita. Apabila diri tidak ditaklukkan, kita tidak akan memperoleh sentosa. Tidak ada kuasa manusia yang dapat menguasai keangkuhan hawa nafsu hati. Kita pun tidak ber-daya sama halnya dengan murid-murid itu untuk meneduhkan gelora ombak. Tetapi Ia yang telah mendiamkan Danau Galilea juga telah mengucapkan perkataan damai bagi setiap jiwa. Bagaimana pun be-sarnya topan, orang-orang yang berpaling kepada Yesus serta berseru: “Tuhan, selamatkan kami,” akan mendapat kelepasan. Kemurahan-Nyalah yang telah memperdamaikan jiwa kepada Allah, menenangkan pe-perangan hawa nafsu manusia, dan di dalam kasih-Nya ati itu tenang. “Dibuat-Nyalah badai itu diam, sehingga gelombang-gelombangnya tenang. Mereka bersukacita, sebab semuanya reda, dan dituntun-Nya mereka ke pelabuhan kesukaan mereka.” Mazmur 107.29, 30. Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Di mana ada ke-benaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya. Roma 5.1, Yesaya 32:17. [KSZ1 362.1]

Waktu subuh Juruselamat dan kawan-kawan-Nya telah tiba di pantai, dan sinar matahari menyentuh permukaan danau dan daratan sebagai ucapan damai. Tetapi tidak lama setelah mereka menjejakkan kaki di pantai mata mereka disambut satu pemandangan yang dahsyat melebihi amukan topan. Dari beberapa tempat persembunyian di antara pekuburan, dua orang gila menyerang mereka seolah-olah hendak membinasakan mereka. Di tubuh mereka tergantunglah bagian rantai yang mereka putuskan untuk melepaskan diri mereka dari tahanan. Tubuh mereka luka-luka dan mencucurkan darah karena mereka telah mengiris-irisnya dengan batu-batu yang tajam. Mata mereka yang jalang tampak melalui rambut yang panjang dan tebal, manusia yang telah dicemarkan oleh Setan yang menguasai mereka, mereka lebih kelihatan seperti binatang buas daripada seperti manusia. [KSZ1 362.2]

Murid-murid beserta kawan-kawan mereka berlari ketakutan; tetapi kemudian mereka perhatikan bahwa Yesus tidak bersama-sama dengan mereka, lalu mereka mencari-Nya. Ia berdiri di tempat mereka mening-galkan Dia. Ia yang telah mendiamkan angin ribut, yang telah bertemu dengan Setan dan mengalahkannya, tidak lari dari hadapan setan-setan ini. Apabila orang itu menggertakkan giginya, dan mulutnya berbusa, serta mendekati Dia, Yesus mengangkat tangan yang juga telah menenangkan angin ribut, sehingga orang itu tidak dapat datang mendekat. Mereka berdiri dengan geramnya, tetapi tidak berdaya di hadapan Yesus. [KSZ1 363.1]

Dengan kuasa Ia memerintahkan supaya roh-roh jahat itu keluar dari mereka. Perkataan-Nya menembusi kegelapan pikiran orang yang malang itu. Mereka perlahan-lahan insaf bahwa Seorang yang ada di dekat itulah yang dapat menyelamatkan mereka dari siksaan Setan. Mereka tersungkur di kaki Juruselamat lalu menyembah Dia; tetapi waktu bibir mereka hendak dibukakan untuk memohon kemurahan-Nya, Setan berkata melalui mereka, berseru dengan nyaring: “Apa urusan-Mu dengan aku, hai Yesus, Anak Allah yang Mahatinggi? Demi Allah, jangan siksa aku!” [KSZ1 363.2]

Lalu Yesus bertanya: “Siapa namamu?” Dan jawabnya ialah: “Namaku Legion karena kami banyak.” Dengan menggunakan orang-orang yang dirundung malang ini sebagai alat komunikasi, mereka memohon agar Yesus jangan mengeluarkan mereka dari negeri itu. Di atas lereng gunung, tidak berapa jauh dari situ ada sekumpulan babi yang sedang makan. Kepada babi inilah Setan-setan memohon agar mereka diizinkan masuk, lalu Yesus membiarkan mereka masuk. Tiba-tiba kumpulan babi-babi itu panik. Babi-babi itu berlari dari lereng gunung yang curam, dan tidak sanggup menahan diri mereka di pantai, terjun ke dalam danau dan binasa. [KSZ1 363.3]