Hari 6: Pasal 6 - “KAMI MELIHAT BINTANGNYA”
31 Juli 2026 · Hari 6

Hari 6: Pasal 6 - “KAMI MELIHAT BINTANGNYA”

Halaman 55-56 | Pasal 6, Paragraf 21-24 | KSZ1 55.4-KSZ1 56.3

Ayat Inti

Matius 2:2

Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran

Minggu 4 membaca Bab 6: Kami Melihat Bintangnya. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Doa

Tuhan Yesus, tuntun kami mengenal-Mu lebih dalam melalui bacaan minggu ini dan mampukan kami membagikan pengharapan-Mu dengan kasih. Amin.

Teks Lengkap

KSZ1 55.4 Herodes di Yerusalem dengan tidak sabar lagi menunggu pulangnya orang Majus itu. Dengan berlalunya waktu dan mereka itu tidak kunjung muncul juga, bangkitlah kecurigaannya. Keengganan rabi-rabi untuk menunjukkan tempat kelahiran Mesias tampaknya menunjukkan bahwa mereka sudah mencium bau rencananya, dan bahwa orang Majus itu telah dengan sengaja menghindari dia. Pikiran itu menggeramkan hatinya. Tipu daya sudah gagal, tetapi kekerasan masih dapat digunakan. Ia akan mengadakan sebuah contoh dengan Raja yang masih bayi ini. Orang Yahudi yang angkuh itu harus melihat apa yang dapat mereka harapkan dalam segala percobaan mereka hendak menempatkan seorang raja di atas takhta.

KSZ1 56.1 Serdadu-serdadu dengan segera disuruh pergi ke Betlehem, dengan perintah untuk membunuh semua anak yang berusia dua tahun ke bawah. Rumah tangga yang tenteram di kota Daud itu menyaksikan peristiwa ngeri yang, enam ratus tahun , telah diberitahukan kepada Nabi Yeremia. ‘’Terdengarlah suara di Roma, tangis dan ratap yang amat sedih: Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab -mereka tidak ada lagi.”

KSZ1 56.2 Malapetaka ini telah didatangkan oleh orang Yahudi ke atas diri mereka sendiri. Seandainya mereka berjalan dengan kesetiaan dan kerendahan hati di hadirat Allah, niscaya dengan suatu cara yang luar biasa Ia akan membuat murka raja itu tidak berbahaya bagi mereka. Tetapi mereka telah memisahkan diri dari Allah oleh dosa-dosa mereka dan telah menolak Rohu’lkudus, yang merupakan perisai mereka satu-satunya. Mereka tiada mempelajari Alkitab dengan hasrat hendak menurut kehendak Allah. Mereka telah menyelidiki nubuatan-nubuatan yang dapat ditafsirkan untuk meninggikan diri mereka sendiri, dan untuk menunjukkan betapa Allah membenci semua bangsa yang lain. Mereka itu senan-tiasa membanggakan bahwa Mesias akan datang sebagai raja, menaklukkan segala musuh-Nya, serta menginjak-injak segenap bangsa kafir dalam murka-Nya. Demikianlah mereka membangkitkan rasa dengki pemerintah mereka. Karena mereka salah melukiskan pekerjaan Kristus, Setan bermaksud hendak melaksanakan kebinasaan Juruselamat; akan tetapi terjadi hal yang sebaliknya, bencana itu menimpa kepala mereka sendiri.

KSZ1 56.3 Tindakan kekejaman inilah salah satu kekejaman terakhir, yang menodai pemerintahan Herodes. Tidak lama sesudah pembunuhan terhadap anak-anak yang tidak berdosa itu, ia sendiri terpaksa menyerahkan diri ke dalam malapetaka yang tidak dapat dielakkan oleh seorang jua pun. Ia mengalami kematian yang sungguh mengerikan.

ONEVOICE27 - MISSION FOR ALL

31 Juli 2026 | Hari 6
Hari 6: Pasal 6 - “KAMI MELIHAT BINTANGNYA”

Bacaan Hari Ini:
Kerinduan Segala Zaman
Pasal 6 - “KAMI MELIHAT BINTANGNYA”
Halaman 55-56 | Pasal 6, Paragraf 21-24 | KSZ1 55.4-KSZ1 56.3

Ayat Inti:
Matius 2:2
Yesus Kristus adalah pusat pengharapan dan keselamatan.

Pelajaran:
Minggu 4 membaca Bab 6: Kami Melihat Bintangnya. Bacaan ini menolong jemaat memusatkan perhatian kepada kehidupan, karakter, pelayanan, pengorbanan, dan misi Kristus tanpa memuat ulang isi buku secara penuh.

Baca:
https://onevoice27.my.id/bacaan-harian/minggu-4-hari-6-2026-07-31

Teks Lengkap:

Herodes di Yerusalem dengan tidak sabar lagi menunggu pulangnya orang Majus itu. Dengan berlalunya waktu dan mereka itu tidak kunjung muncul juga, bangkitlah kecurigaannya. Keengganan rabi-rabi untuk menunjukkan tempat kelahiran Mesias tampaknya menunjukkan bahwa mereka sudah mencium bau rencananya, dan bahwa orang Majus itu telah dengan sengaja menghindari dia. Pikiran itu menggeramkan hatinya. Tipu daya sudah gagal, tetapi kekerasan masih dapat digunakan. Ia akan mengadakan sebuah contoh dengan Raja yang masih bayi ini. Orang Yahudi yang angkuh itu harus melihat apa yang dapat mereka harapkan dalam segala percobaan mereka hendak menempatkan seorang raja di atas takhta. [KSZ1 55.4]

Serdadu-serdadu dengan segera disuruh pergi ke Betlehem, dengan perintah untuk membunuh semua anak yang berusia dua tahun ke bawah. Rumah tangga yang tenteram di kota Daud itu menyaksikan peristiwa ngeri yang, enam ratus tahun , telah diberitahukan kepada Nabi Yeremia. ‘’Terdengarlah suara di Roma, tangis dan ratap yang amat sedih: Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab -mereka tidak ada lagi.” [KSZ1 56.1]

Malapetaka ini telah didatangkan oleh orang Yahudi ke atas diri mereka sendiri. Seandainya mereka berjalan dengan kesetiaan dan kerendahan hati di hadirat Allah, niscaya dengan suatu cara yang luar biasa Ia akan membuat murka raja itu tidak berbahaya bagi mereka. Tetapi mereka telah memisahkan diri dari Allah oleh dosa-dosa mereka dan telah menolak Rohu’lkudus, yang merupakan perisai mereka satu-satunya. Mereka tiada mempelajari Alkitab dengan hasrat hendak menurut kehendak Allah. Mereka telah menyelidiki nubuatan-nubuatan yang dapat ditafsirkan untuk meninggikan diri mereka sendiri, dan untuk menunjukkan betapa Allah membenci semua bangsa yang lain. Mereka itu senan-tiasa membanggakan bahwa Mesias akan datang sebagai raja, menaklukkan segala musuh-Nya, serta menginjak-injak segenap bangsa kafir dalam murka-Nya. Demikianlah mereka membangkitkan rasa dengki pemerintah mereka. Karena mereka salah melukiskan pekerjaan Kristus, Setan bermaksud hendak melaksanakan kebinasaan Juruselamat; akan tetapi terjadi hal yang sebaliknya, bencana itu menimpa kepala mereka sendiri. [KSZ1 56.2]

Tindakan kekejaman inilah salah satu kekejaman terakhir, yang menodai pemerintahan Herodes. Tidak lama sesudah pembunuhan terhadap anak-anak yang tidak berdosa itu, ia sendiri terpaksa menyerahkan diri ke dalam malapetaka yang tidak dapat dielakkan oleh seorang jua pun. Ia mengalami kematian yang sungguh mengerikan. [KSZ1 56.3]